Awas! Narasi 'Pranciskan Indonesia' Sangat Berbahaya


  • 22 
  • Thursday, 22 October 2026 
  • Dhika

Awas! Narasi 'Pranciskan Indonesia' Sangat Berbahaya

Prancis dalam beberapa waktu terakhir memang dilaporkan menghadapi gelombang demonstrasi yang diwarnai kerusuhan di sejumlah kota. Pembakaran kendaraan, perusakan fasilitas umum, penjarahan toko, dan gangguan aktivitas masyarakat menjadi gambaran buruk ketika aksi massa kehilangan kendali.

Dampak kerusuhan tidak berhenti pada bentrokan di jalanan. Pelaku usaha harus menanggung kerusakan, pekerja berisiko kehilangan penghasilan, sementara warga biasa menghadapi gangguan mobilitas dan ancaman keamanan. Masyarakat yang tidak terlibat dalam demonstrasi pun ikut menanggung akibatnya.

Karena itu, narasi "mem-Prancis-kan Indonesia" berpotensi menjadi persoalan serius apabila digunakan untuk membenarkan kekerasan atau perusakan. Kritik terhadap pemerintah merupakan bagian penting dari demokrasi, tetapi meniru tindakan anarkis bukanlah jalan untuk memperjuangkan perubahan.

Indonesia memiliki pengalaman pahit ketika demonstrasi berkembang menjadi kerusuhan pada tahuh 1997/1998. Kerusakan pertokoan, fasilitas umum, dan penjarahan tidak hanya menimbulkan kerugian ekonomi, tetapi juga meninggalkan rasa takut serta mengganggu kehidupan masyarakat dalam jangka panjang.

Yang paling dirugikan dalam situasi seperti itu justru sering kali masyarakat kecil. Pedagang kehilangan tempat mencari nafkah, pekerja kesulitan beraktivitas, dan warga yang bergantung pada transportasi umum maupun layanan publik ikut terdampak. Aspirasi yang awalnya ingin memperjuangkan kepentingan rakyat justru berisiko menyengsarakan rakyat sendiri.

Menyampaikan pendapat di muka umum merupakan hak yang dijamin dalam negara demokrasi. Mahasiswa juga memiliki peran penting untuk mengkritisi kebijakan, mengawasi jalannya pemerintahan, dan menyuarakan kepentingan masyarakat. Namun, hak tersebut harus dijalankan dengan menghormati hak orang lain serta menjaga ketertiban umum.

Perbedaan pendapat seharusnya diselesaikan melalui ruang demokrasi, dialog, dan penyampaian tuntutan secara damai. Pemerintah pun perlu tetap terbuka terhadap kritik dan aspirasi masyarakat agar persoalan yang disuarakan dapat ditanggapi secara konstruktif.

Indonesia tidak membutuhkan kerusuhan seperti di Prancis untuk membuktikan bahwa demokrasi tetap hidup. Yang dibutuhkan adalah keberanian menyampaikan kritik, kemampuan berdialog, dan komitmen menjaga keselamatan bersama. Jangan sampai narasi yang mengatasnamakan perubahan justru membuka jalan bagi kekacauan yang akhirnya merugikan masyarakat luas.