Loading
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur melaporkan bahwa capaian pendataan Sensus Ekonomi 2026 di wilayahnya baru menyentuh angka 10 persen sejak dimulai pada 15 Juni lalu. Meski persentasenya terhitung masih kecil, BPS menegaskan bahwa progres tersebut masih berada di koridor jalur yang tepat (on track) dan sesuai dengan linimasa yang telah direncanakan sebelumnya.
Plt. Kepala BPS Jawa Timur, Herum Fajarwati, menyatakan optimistis bahwa seluruh proses pendataan lapangan akan rampung tepat waktu. BPS Jatim sendiri menargetkan pengumpulan data dari seluruh pelaku usaha di wilayah Jawa Timur dapat diselesaikan secara menyeluruh pada akhir Agustus 2026 mendatang.
Demi mengejar target tersebut, sebanyak 41.538 petugas lapangan telah diterjunkan ke berbagai pelosok kabupaten dan kota di Jawa Timur. Para petugas ini bergerak secara langsung dari rumah ke rumah (door-to-door) untuk melakukan wawancara dan pencatatan guna memastikan tidak ada pelaku usaha yang terlewat.
Sensus Ekonomi kali ini difokuskan untuk menyasar seluruh aktivitas usaha nonpertanian, mulai dari sektor perdagangan, jasa, hingga industri pengolahan skala mikro maupun besar. Langkah ini diambil guna mendapatkan gambaran dan peta yang komprehensif mengenai struktur dan dinamika perekonomian di Jawa Timur.
Dukungan penuh juga datang dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur, di mana Gubernur Khofifah Indar Parawansa turut menyukseskan pendataan saat menerima kunjungan petugas di kediamannya. Khofifah menekankan bahwa hasil akhir dari sensus ini akan menjadi fondasi yang sangat krusial bagi pemerintah dalam menentukan arah kebijakan ekonomi yang tepat.
Selain untuk perencanaan ekonomi, data yang akurat dari sensus ini nantinya akan digunakan sebagai basis acuan penting bagi pemerintah dalam menyalurkan berbagai program bantuan sosial. Oleh karena itu, BPS mengimbau kepada seluruh masyarakat dan pelaku usaha agar menyambut baik kedatangan petugas serta memberikan data yang jujur demi kemajuan pembangunan daerah.