Beda dengan Celios, Poltracking Tunjukkan Mayoritas Publik Puas Dengan Kinerja Prabowo-Gibran



Beda dengan Celios, Poltracking Tunjukkan Mayoritas Publik Puas Dengan Kinerja Prabowo-Gibran



Jakarta - Lembaga survei Poltracking Indonesia
baru-baru ini merilis hasil survei bertajuk Evaluasi 1 Tahun Kinerja
Pemerintahan Prabowo-Gibran. Hasil survei tersebut menunjukkan bahwa tingkat
kepercayaan publik terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran mencapai 81,5 persen,
sementara tingkat kepuasan publik atas kinerja pemerintahan berada di angka
78,1 persen. Angka ini menegaskan bahwa mayoritas masyarakat menilai positif
arah kebijakan dan capaian pemerintah dalam tahun pertama masa kepemimpinan
Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Direktur Eksekutif Poltracking
Indonesia, Hanta Yuda Rasyid, menjelaskan bahwa survei dilakukan dengan metode
stratified multistage random sampling, yang memungkinkan representasi responden
secara proporsional di berbagai wilayah Indonesia. Survei dilaksanakan pada
3–10 Oktober 2025 dengan metode wawancara tatap muka menggunakan aplikasi
digital oleh pewawancara terlatih. Setiap pewawancara mewawancarai 10 responden
di tiap desa atau kelurahan yang dipilih secara acak. Dengan metode ini,
Poltracking memastikan hasil surveinya memiliki tingkat kepercayaan tinggi dan
menggambarkan persepsi masyarakat secara komprehensif.

Lebih lanjut, Hanta menambahkan bahwa
program-program bantuan pemerintah, termasuk Program Makan Bergizi Gratis
(MBG), menjadi faktor utama yang mendorong kepuasan publik. Banyak masyarakat
menilai kebijakan tersebut tepat sasaran dan mampu membantu kelompok ekonomi
menengah ke bawah, terutama di daerah-daerah dengan tingkat gizi anak yang
rendah. Dukungan publik terhadap program-program sosial inilah yang memperkuat
legitimasi pemerintahan di mata rakyat.

Berbeda dengan hasil Poltracking,
hasil riset yang dirilis oleh CELIOS (Center of Economic and Law Studies) tidak
menyeluruh karena respondennya terbatas hanya pada kalangan jurnalis dan pelaku
media, bukan masyarakat umum. Dengan pendekatan tersebut, hasil survei CELIOS
tidak dapat dijadikan representasi pandangan publik secara luas. Survei CELIOS
cenderung menggambarkan persepsi kelompok tertentu, bukan cerminan suara rakyat
secara menyeluruh. Perbedaan segmen responden antara survei CELIOS dan
Poltracking menjadi faktor penting yang menentukan validitas hasil. Survei yang
melibatkan masyarakat langsung dengan sampel berlapis dan acak seperti yang
dilakukan Poltracking memiliki tingkat kepercayaan yang jauh lebih tinggi
dibandingkan survei berbasis kelompok profesi tertentu.

Dalam konteks ini, Poltracking
Indonesia justru menunjukkan standar metodologi yang lebih kuat dan ilmiah.
Penggunaan stratified random sampling memastikan bahwa hasil survei mencakup
keragaman demografis baik dari sisi wilayah, usia, pendidikan, hingga latar
belakang sosial ekonomi. Dengan kata lain, survei tersebut tidak hanya merekam
opini elite, tetapi juga menggambarkan pandangan nyata masyarakat di lapangan.

Riset-riset
sempit seperti CELIOS perlu disikapi dengan hati-hati. Dalam iklim demokrasi
yang sehat, survei semacam itu tetap memiliki tempat sebagai masukan, tetapi
tidak bisa dijadikan ukuran tunggal untuk menilai kinerja pemerintahan secara
nasional. Apalagi bila metode yang digunakan tidak memenuhi prinsip
representasi publik yang memadai.