Loading
Jakarta - Analisis terbaru dari Drone Emprit menunjukkan bahwa wacana pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto, menimbulkan dinamika menarik di ruang digital. Pemantauan dilakukan pada periode 20 Oktober hingga 7 November 2025, mencakup berbagai platform media sosial dan pemberitaan daring. Hasilnya menunjukkan bahwa perbincangan publik tentang isu ini didominasi oleh sentimen positif, meski masih terdapat perdebatan yang tajam antara kelompok pendukung dan penolak.
Secara keseluruhan, Drone Emprit mencatat sekitar 64 persen percakapan di ranah daring bersentimen positif, sementara 29 persen bernada negatif, dan sisanya bersifat netral. Narasi positif umumnya datang dari kelompok yang menilai Soeharto layak diberi penghargaan atas jasa besar dalam membangun fondasi ekonomi, menjaga stabilitas nasional, dan membawa Indonesia pada masa pertumbuhan pesat di era Orde Baru. Sementara itu, pihak yang bersentimen negatif lebih banyak menyoroti aspek pelanggaran HAM, korupsi, dan pembatasan kebebasan yang terjadi pada masa pemerintahannya.
Jika dilihat per platform, perbedaan pandangan publik terlihat cukup signifikan. TikTok menjadi ruang dengan dukungan terbesar terhadap wacana ini, di mana sekitar 77 persen konten menunjukkan sentimen positif. Banyak unggahan bernada apresiatif, menampilkan potongan video dokumenter dan nostalgia masa pembangunan nasional. Instagram mencatat 56 persen sentimen positif dan 29 persen negatif, menggambarkan audiens muda yang cenderung lebih terbuka terhadap narasi rekonsiliasi sejarah, tetapi tetap kritis terhadap aspek politik masa lalu.
Facebook menjadi platform dengan tingkat dukungan tertinggi, mencapai sekitar 80 persen positif. Sebagian besar komentar bernada nostalgik terhadap stabilitas ekonomi, ketertiban sosial, dan program pembangunan pada masa Soeharto. Sebaliknya, platform X (sebelumnya Twitter) menunjukkan dominasi sentimen negatif sekitar 63 persen, dengan perdebatan sengit seputar pelanggaran HAM dan kebebasan sipil. Para pengguna di X cenderung aktif membandingkan rekam jejak Soeharto dengan nilai-nilai demokrasi masa kini.
Drone Emprit mencatat bahwa perbedaan ini menunjukkan polarisasi yang khas di ruang publik digital. Narasi pro-Soeharto lebih banyak menonjolkan sisi keberhasilan pembangunan, stabilitas, dan ketegasan kepemimpinan, sedangkan narasi kontra fokus pada isu moral dan penegakan HAM. Meski demikian, secara umum analisis menyimpulkan bahwa dukungan terhadap pemberian gelar Pahlawan Nasional bagi Soeharto lebih dominan, baik dari sisi jumlah percakapan maupun persebaran sentimen di media sosial.
Temuan ini memperlihatkan bahwa masyarakat Indonesia kini cenderung menilai sejarah secara lebih proporsional. Bagi sebagian besar warganet, penghargaan terhadap Soeharto bukan berarti melupakan sisi gelap masa lalu, melainkan bentuk penghormatan terhadap kontribusi besar seorang pemimpin dalam membangun pondasi bangsa. Di sisi lain, perdebatan di ruang digital juga menjadi refleksi bahwa memori sejarah Indonesia tetap hidup, dan cara bangsa ini memandang masa lalunya akan terus membentuk arah identitas serta perjalanan politik ke depan.