Loading
Hantavirus kembali menjadi topik perbincangan hangat di media sosial, kali ini disertai klaim yang menghubungkannya dengan vaksin COVID-19. Sebuah unggahan di media sosial menampilkan dokumen Pfizer dan menyebut bahwa hantavirus adalah efek samping vaksin BNT162b2, sekaligus mengaitkannya dengan kematian seorang profesor hukum internasional. Sayangnya, klaim-klaim ini tidak didukung fakta dan telah dibantah oleh berbagai lembaga pemeriksa fakta terpercaya.
Dokumen yang beredar adalah laporan resmi Pfizer berjudul "5.3.6 Cumulative Analysis of Post-Authorization Adverse Event Reports" yang mencakup data dari Desember 2020 hingga Februari 2021. Dokumen tersebut merupakan laporan adverse event yang diwajibkan pemerintah kepada perusahaan farmasi. Ini bukan daftar efek samping yang terbukti disebabkan oleh vaksin, melainkan daftar luas kondisi kesehatan yang ingin dipantau oleh peneliti selama uji klinis maupun peluncuran vaksin. Dengan kata lain, hantavirus termasuk dalam daftar "Adverse Events of Special Interest" atau AESI, yaitu kondisi kesehatan yang dipantau selama uji klinis, bukan efek samping yang terbukti disebabkan vaksin. Lead StoriesFull Fact
Pfizer telah menegaskan bahwa pencantuman suatu kondisi dalam dokumen tersebut tidak membuktikan adanya hubungan kausal antara vaksin dan infeksi hantavirus. Situs pemeriksa fakta Reuters, Snopes, Full Fact, dan Lead Stories semuanya menerbitkan klarifikasi serupa pada awal Mei 2026. Tidak ada bukti bahwa vaksin COVID-19 menyebabkan infeksi hantavirus, dan hantavirus tidak tercantum sebagai efek samping yang sudah terbukti dalam leaflet produk atau daftar kejadian yang secara kausal dikaitkan dengan vaksin oleh regulator mana pun. MEAWWFactually
Lalu bagaimana hantavirus sebenarnya menyebar? Hantavirus adalah sekelompok virus yang dibawa oleh hewan pengerat seperti tikus, dan ditularkan melalui kotoran serta urin mereka. Sebagian besar hantavirus tidak menyebar dari manusia ke manusia, meskipun penularan antar-manusia pernah terjadi pada satu galur virus yaitu Andes, dalam kasus yang sangat langka. Galur Andes inilah yang dikaitkan dengan wabah di kapal pesiar Belanda yang berangkat dari Argentina pada awal Mei 2026, yang turut memicu penyebaran klaim palsu ini di media sosial. Full Fact
Unggahan tersebut juga memuat klaim tentang kematian Profesor Francis Boyle, pakar hukum internasional dari Universitas Illinois, yang disebut "ditemukan tewas" setelah setuju bersaksi melawan Bill Gates dan CEO Pfizer. Faktanya, Profesor Boyle meninggal pada 30 Januari 2025 di Carle Foundation Hospital, Urbana, Illinois. Klaim bahwa kematiannya bersamaan dengan kesepakatan untuk bersaksi melawan Gates dan Bourla di pengadilan Belanda tidak terbukti, karena gugatan tersebut baru dimulai pada Juli 2025, beberapa bulan setelah kepergiannya. FactuallyX
Di tengah derasnya arus informasi, kemampuan untuk memverifikasi sumber sebelum menyebarkan konten adalah keterampilan yang semakin krusial. Dokumen ilmiah dan regulasi memiliki konteks dan terminologi teknis yang mudah disalahartikan oleh publik umum. Ketika suatu kondisi masuk dalam daftar pemantauan, itu justru menunjukkan transparansi dan kehati-hatian dalam proses keamanan vaksin, bukan bukti bahaya. Literasi kesehatan yang baik adalah benteng terbaik melawan misinformasi.