Jangan Asal Salahkan MBG: Keracunan Itu Bukan Bukti Gagal, Tapi Alarm untuk Lebih Serius



Jangan Asal Salahkan MBG: Keracunan Itu Bukan Bukti Gagal, Tapi Alarm untuk Lebih Serius

Yogyakarta - Mari kita jujur saja: setiap program besar pasti ada masalah. Jalan tol sempat macet parah saat pertama kali dibuka, kereta cepat pernah mogok di awal uji coba, bahkan vaksinasi massal pun dulu menimbulkan pro kontra. Tapi apakah itu alasan untuk membatalkan semuanya? Tidak. Justru di situlah letak pentingnya evaluasi.

Kasus siswa yang keracunan setelah makan MBG memang serius. Tetapi menyimpulkan bahwa program ini gagal total hanya karena beberapa insiden adalah kesalahan berpikir yang terlalu simplisitis. Fakta lapangan menunjukkan, jutaan anak setiap hari makan MBG tanpa masalah. Yang terdengar di publik hanya segelintir kasus, karena memang itulah sifat berita: yang bermasalah lebih heboh daripada yang berhasil.


1. Beda Keracunan Massal dengan Salah Kelola

Mari kita bedah. Keracunan bisa terjadi karena banyak faktor: adaptasi tubuh, daya tahan berbeda tiap individu, atau distribusi makanan di lapangan yang tidak konsisten. Apakah itu berarti seluruh program busuk? Tidak. Kualitas pengawasan MBG sudah dijaga oleh BPOM, ahli gizi, dan pemerintah daerah. Jadi yang perlu dibenahi adalah teknis di lapangan, bukan dihentikan programnya.


2. Kritik yang Emosional = Tidak Solutif

“Kalau makanannya basi gimana?” — itu pertanyaan yang mudah dilontarkan, tapi apakah memberi solusi? Mari realis: dalam skala distribusi jutaan porsi makanan setiap hari, pasti ada risiko teknis. Yang dibutuhkan bukan sinisme, tapi mekanisme perbaikan cepat. Jangan cuma teriak “gagal!”, sementara jutaan anak lainnya justru terbantu gizinya.


3. MBG Adalah Investasi, Bukan Cuma Nasi Bungkus

Orang sering lupa: MBG bukan sekadar proyek bagi-bagi makanan. Ini adalah investasi jangka panjang untuk generasi sehat. Anak yang gizinya baik hari ini adalah tenaga produktif 10–20 tahun mendatang. Tanpa itu, kita hanya melahirkan generasi stunting yang lemah bersaing. Jadi, kalau ada masalah teknis di lapangan, mari benahi—jangan dibunuh programnya.


4. Ya, Ada Salah. Tapi Jangan Bodoh, Jangan Berhenti

Kalau ada kelalaian di dapur, distribusi, atau standar alat makan, itu harus ditindak tegas. Bukan ditutup-tutupi. Tapi menyerang program MBG seakan-akan semua salah, itu sama saja bunuh diri sebagai bangsa. Negara yang ingin maju tidak boleh mundur hanya karena ketakutan pada masalah awal. Lebih bodoh lagi kalau kita membiarkan anak-anak tetap lapar, hanya demi memuaskan rasa sinis publik.

Mari hadapi kenyataan: MBG bukan proyek sempurna, tapi proyek yang terlalu penting untuk gagal. Kritik boleh, tapi jangan sampai berubah jadi sabotase moral. Setiap keracunan adalah alarm, bukan vonis mati. Yang dibutuhkan adalah evaluasi cepat, transparansi, dan perbaikan berkelanjutan.


















Karena pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan reputasi pejabat, tapi masa depan anak-anak Indonesia.