Loading
TARAKAN, 23 Juli 2025 – Melalui strategi proaktif "jemput bola" dan sinergi tiga pilar yang kuat, program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) menunjukkan keberhasilan signifikan dalam menjangkau ribuan warga dan menjadi andalan untuk deteksi dini penyakit. Hal ini terungkap dalam dialog interaktif "Sapa Kaltara" yang menghadirkan perwakilan dari Dinas Kesehatan, Puskesmas, dan kalangan akademisi pada Rabu (23/7).
Program yang merupakan salah satu prioritas utama pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto ini bertujuan untuk membangun budaya sehat dan memastikan generasi masa depan Indonesia tumbuh kuat dan produktif.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kaltara, Dr. H. Usman, SKM, M.Kes, menyatakan bahwa program CKG telah diimplementasikan sejak 10 Februari 2025 dengan sasaran seluruh siklus hidup masyarakat. "Ini bukan sekadar pemeriksaan massal, melainkan sebuah langkah strategis untuk mendeteksi faktor risiko penyakit sejak dini. Dengan intervensi yang lebih cepat, kita dapat menekan angka kesakitan, kecacatan, bahkan kematian," tegas Dr. Usman.
Ia juga memastikan bahwa layanan ini tidak hanya terpusat di perkotaan, tetapi juga dirancang untuk menjangkau masyarakat di Daerah Terpencil, Perbatasan, dan Kepulauan (DTPK) melalui strategi penjangkauan khusus oleh puskesmas.
Keberhasilan di tingkat lapangan dibuktikan melalui paparan dari Kepala Puskesmas Mamburungan, Dr. Dedi Siapriansa. Ia mengungkapkan bahwa kunci utama capaian program adalah pendekatan yang tidak pasif. "Kami tidak menunggu warga datang. Kami datangi langsung komunitas, perusahaan, masyarakat pesisir, hingga sekolah-sekolah. Di Tarakan saja, sudah lebih dari 13.000 warga yang terskrining, dan kami memanfaatkan teknologi aplikasi SatuSehat Mobile untuk mempermudah pendaftaran hingga pelaporan hasil melalui 'Rapor Kesehatan' digital," jelas Dr. Dedi.
Secara khusus, Dr. Dedi menyoroti rencana intensifikasi CKG di lingkungan sekolah yang akan dimulai Agustus mendatang. Langkah ini didasari data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang menunjukkan tantangan kesehatan serius pada anak dan remaja, seperti obesitas, anemia, dan masalah kesehatan mental.
Dukungan untuk menyukseskan program ini juga datang dari dunia akademis. Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Borneo Tarakan (UBT), Alvi Nur, S.Kep, M.Kep, menegaskan komitmen pihaknya. "Ini adalah kerja bersama. Kami di UBT siap mendukung melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi: menerjunkan mahasiswa praktik untuk membantu pemeriksaan, menggerakkan dosen sebagai edukator, serta melakukan riset untuk mengevaluasi efektivitas program," kata Alvi Nur.
Menurutnya, sinergi antara pemerintah, pelaksana lapangan, dan universitas adalah formula ideal untuk memastikan program tidak hanya berjalan, tetapi juga memberikan dampak maksimal dalam mewujudkan generasi sehat menuju Indonesia Emas 2045.
Dialog ini ditutup dengan imbauan kepada seluruh masyarakat Kaltara untuk proaktif memanfaatkan layanan CKG yang disediakan secara gratis oleh pemerintah sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan diri dan keluarga.