Loading
Lubuklinggau, 10 Maret 2025 – Kasus Tuberkulosis (TBC) di Kota Lubuklinggau terus menjadi perhatian. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Lubuklinggau, sebanyak 115 kasus TBC tercatat selama periode Januari hingga Februari 2025. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Lubuklinggau, Lena Agustini, SKM MM, mengungkapkan bahwa angka tersebut diperoleh dari laporan 10 Puskesmas serta fasilitas pelayanan kesehatan lainnya, seperti rumah sakit dan klinik.
Rinciannya, pada Januari 2025 tercatat 60 kasus, sementara pada Februari 2025 terjadi 55 kasus. Menanggapi situasi ini, Dinkes Lubuklinggau telah melakukan berbagai langkah pencegahan dan edukasi kepada masyarakat. Salah satu upaya yang dilakukan adalah bekerja sama dengan petugas Global Fund, sebuah program internasional yang fokus pada penanggulangan AIDS, TBC, dan malaria. Penyuluhan dilakukan melalui kunjungan Puskesmas ke sekolah-sekolah serta rumah warga.
Selain itu, komunitas Masyarakat Sehat Sriwijaya (MSS) turut berperan dalam penanggulangan TBC dengan membentuk kader khusus di setiap Puskesmas. Kader ini bertugas melaporkan temuan masyarakat yang berpotensi mengidap TBC kepada Puskesmas, yang kemudian diteruskan ke Dinas Kesehatan untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Namun, upaya pencegahan dan pengobatan masih menghadapi beberapa kendala. Salah satunya adalah durasi pengobatan yang cukup lama, yakni sekitar enam bulan. Banyak pasien yang menghentikan konsumsi obat karena ukuran obat yang besar. Selain itu, kendala lain yang dihadapi adalah akses pelayanan kesehatan, di mana beberapa warga enggan melanjutkan pengobatan karena lokasi rumah mereka yang jauh dari Puskesmas.
Dinkes Lubuklinggau terus mengimbau masyarakat untuk tetap menjalani pengobatan hingga tuntas serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya pencegahan dan deteksi dini guna menekan angka kasus TBC di kota ini.