Loading
Oleh: Aminudin (Ketua DPM Universitas Muhammadiyah Mataram)
Sumpah Pemuda adalah monumen kokoh yang menjulang tinggi, melambangkan gelegar kekuatan kolektif pemuda yang bersatu untuk merobohkan tirani. Namun, di era disrupsi digital yang nir-substansi ini, monumen tersebut kini tampak layu. Kontrasnya begitu menyakitkan: alih-alih menjadi ujung tombak perubahan, peran pemuda dalam menjawab persoalan fundamental bangsa kini nyaris punah.
Realitas ironis terpampang jelas: di kafe-kafe yang diselimuti asap rokok dan aroma kopi mahal, fokus utama perbincangan telah bergeser dari nasib bangsa menjadi sekadar perdebatan hampa tentang tingkatan peringkat (rank) permainan atau obsesi dangkal mengejar status "sukses pribadi" (success personality) yang diukur dari jumlah pengikut media sosial. Refleksi gerakan pemuda kini terperangkap dalam egoisme, jauh dari landasan utama: cinta tak bersyarat dan kesadaran kolektif.
Definisi formal pemuda—warga negara usia 16 hingga 30 tahun (UU No. 40 Tahun 2009)—kini terasa hampa tanpa adanya substansi. Kesadaran kritis seharusnya adalah benteng yang tak tersentuh oleh manipulasi. Namun, kita mendapati generasi yang justru nyaman disetir oleh algoritma dan trending topic. Pertanyaan retoris pun menghantam kita: Di mana daya juang (power) pemuda yang dulu menggetarkan rezim kolonial, dan mengapa kini ia mati suri?
Kenyataan ini adalah tamparan keras bagi sejarah. Masyarakat seolah terpaksa merindukan figur-figur ideal di masa lalu: pemuda yang sepenuhnya paham akan tugas historisnya, yang berani berdiri di garis terdepan perlawanan demi penegakan hak dan keadilan, serta pemuda yang inovatif dan berani melontarkan gagasan yang membedah busuknya tatanan sosial.
Maka, peringatan 28 Oktober harus menjadi lebih dari sekadar seremonial. Pemuda sejati bukan sekadar mereka yang beruntung duduk di bangku akademik, bukan pula sekadar individu yang berani berteriak lantang di hadapan pejabat. Pemuda adalah setiap jiwa yang masih memelihara bara api kesadaran dan menolak untuk didiamkan oleh kemapanan.
Kita mengingat Sumpah Pemuda dirumuskan oleh 700 pemuda yang sadar sepenuhnya bahwa mereka sedang berada di bawah penindasan. Kesadaran itu melahirkan tiga pilar sumpah yang revolusioner. Sebagian dari kita mungkin mencoba membela diri dengan bertanya: "Apakah kita masih dijajah?"
Jawabannya harus lantang dan tanpa keraguan: "Ya, kita masih dijajah, bahkan lebih berbahaya!" Penjajahan kini tidak lagi datang dengan senjata, melainkan merayap perlahan melalui:
1. Penjajahan Ekonomi: Ketika sumber daya dikuasai segelintir oligarki dan generasi muda dihimpit ketidakpastian lapangan kerja.
2. Penjajahan Budaya: Ketika identitas lokal tergerus habis oleh budaya impor yang dangkal dan materialistis.
3. Penjajahan Mentalitas: Ketika daya kritis dilemahkan oleh distraksi digital, melahirkan generasi yang apati dan sinis terhadap politik dan perjuangan.
Di tengah ilusi kemakmuran ini, kita masih berani menggembar-gemborkan slogan "Indonesia Emas 2045"—sebuah cita-cita menjadi Welfare State (Negara Kesejahteraan). Ironisnya, cita-cita itu hanya akan menjadi fatamorgana jika kita membiarkan kesadaran kolektif generasi mudanya mati di balik layar gawai, kehilangan daya juang yang sejatinya adalah warisan Sumpah Pemuda.