Loading
Oleh: Bara Winatha*)
Di tengah dinamika geopolitik global dan tantangan
domestik yang semakin kompleks, ketahanan pangan telah menjelma menjadi salah
satu pilar utama dalam menjaga kedaulatan bangsa. Program-program pemerintah di
bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang fokus pada swasembada pangan
bukan hanya mencerminkan keinginan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi rakyat,
tetapi merupakan bagian integral dari upaya besar dalam memperkuat fondasi
kedaulatan nasional.
Inspektur Pengawasan Umum (Irwasum) Polri, Komjen
Pol Dedi Prasetyo, mengatakan bahwa ketahanan pangan merupakan kedaulatan
negara itu sendiri. Polri, dalam koordinasi lintas sektoral dengan Kementerian
Pertanian dan jajaran TNI serta Forkopimda, telah menyelenggarakan panen jagung
serentak di 18 provinsi dengan luasan lahan sekitar 3.900 hektare. Produksi
jagung dari panen ini diperkirakan mencapai ratusan ribu ton, dan akan terus
dilanjutkan pada kuartal berikutnya dengan target luasan lebih dari 106.000
hektare dan estimasi hasil panen hingga 1 juta ton.
Dedi menjelaskan bahwa seluruh upaya yang
dilakukan merupakan wujud konkret dukungan terhadap visi besar Pemerintah Presiden
Prabowo dalam mencapai swasembada pangan pada awal 2026. Ia menegaskan bahwa
keberhasilan program ini tidak mungkin tercapai bila hanya mengandalkan satu
institusi. Karena itu, dibutuhkan kolaborasi lintas lembaga dan keterlibatan
aktif seluruh elemen masyarakat.
Senada dengan itu, Guru Besar Fakultas Perikanan
dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof. Rokhmin Dahuri, menyatakan bahwa
Indonesia memiliki potensi luar biasa dalam memproduksi pangan. Ia menyoroti
urgensi pembenahan sektor pangan nasional secara menyeluruh. Menurutnya,
ketahanan pangan yang kuat akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia
Indonesia, menciptakan generasi yang sehat secara fisik, cerdas secara
intelektual, dan tinggi produktivitasnya.
Rokhmin juga mengutip pernyataan Presiden pertama
Republik Indonesia, Ir. Soekarno, yang menyatakan bahwa urusan pangan adalah
hidup-matinya suatu bangsa. Ia menambahkan bahwa negara dengan populasi lebih
dari 200 juta jiwa seperti Indonesia tidak akan bisa maju dan berdaulat jika
kebutuhan pangannya masih bergantung pada impor. Dengan memanfaatkan kekayaan
sumber daya alam dan pertanian Indonesia secara maksimal, Rokhmin meyakini
bahwa Indonesia tidak hanya bisa mencapai swasembada pangan, tetapi juga mampu
menjadi lumbung pangan dunia.
Sementara itu, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia
(PWI) DIY, Hudono SH, menggarisbawahi peran penting media dalam mendukung
agenda pemerintah dalam mewujudkan kedaulatan pangan. Dalam peringatan Hari
Pers Nasional 2025, Hudono menyampaikan bahwa pers akan terus berkomitmen untuk
menjadi bagian dari solusi nasional. Ia menekankan bahwa media memiliki
tanggung jawab untuk menyebarluaskan informasi yang akurat, mendidik publik
tentang pentingnya swasembada pangan, serta memberikan masukan konstruktif
kepada pemerintah agar kebijakan pangan yang dibuat semakin efektif dan
berpihak pada kepentingan rakyat.
Ketahanan pangan sangat terkait erat dengan upaya
mewujudkan misi-misi utama pemerintah, khususnya Asta Cita yang menjadi arah
pembangunan nasional. Hudono terus mendorong kolaborasi lintas sektor antara
pemerintah, akademisi, masyarakat, dan media untuk memperkuat kesadaran
kolektif tentang pentingnya kemandirian bangsa melalui sektor pangan. Ia juga
menyinggung bahwa Daerah di Indonesia memiliki potensi besar dalam hal
pengelolaan pangan yang baik dan berkelanjutan, terutama jika mampu
mengendalikan alih fungsi lahan dan meningkatkan kesejahteraan petani.
Lebih dari sekadar persoalan teknis atau ekonomi,
ketahanan pangan adalah fondasi dari sebuah bangsa yang berdiri tegak dan
berdaulat. Program-program yang sedang dijalankan oleh pemerintah di bawah
kepemimpinan Presiden Prabowo bukan hanya bertujuan untuk menurunkan angka
impor atau meningkatkan produksi pangan dalam negeri, melainkan menjadi bagian
dari strategi besar untuk memperkuat kemandirian nasional di tengah tantangan
global yang terus berubah.
Ketahanan pangan menjadi senjata penting dalam
menjaga stabilitas, kesejahteraan, dan martabat bangsa Indonesia. Pangan bukan
hanya sekadar soal makan. Ia adalah representasi dari kekuatan dan martabat
bangsa. Melalui kerja bersama seluruh elemen bangsa, visi besar menuju
Indonesia yang berdaulat dan sejahtera dapat tercapai dan ketahanan pangan
adalah pintu awal menuju cita-cita besar itu.
*)Penulis merupakan pengamat sosial dan
kemasyarakatan.