Pemuda Papua Jangan Jadi Penonton di Tanah Sendiri, Menuju 2045


  • 55 
  • Monday, 26 October 2026 
  • Bara

Pemuda Papua Jangan Jadi Penonton di Tanah Sendiri, Menuju 2045

SORONG – Masa depan pemuda Papua menuju Indonesia Emas 2045 menjadi sorotan dalam kegiatan Ruang Dialektika Pemuda yang diselenggarakan PMKRI Cabang Aimas Sta. Monika pada Minggu (25/10/2026). 


Diskusi menjelang Hari Sumpah Pemuda ini mengangkat tantangan keamanan, persoalan sosial, pendidikan, serta pentingnya keterlibatan generasi muda dalam pembangunan Papua.

Kegiatan bertema “Nasib Pemuda Papua Menuju Indonesia Emas 2045” tersebut menghadirkan narasumber dari unsur pemerintah, akademisi, dan penyelenggara pemilu. Para narasumber menyoroti perlunya mempersiapkan generasi muda agar mampu menghadapi perubahan dan mengambil peran dalam menentukan masa depan daerahnya.

Akademisi Gerad Kosamah, S.I.Kom., M.I.Kom., menilai momentum Hari Sumpah Pemuda perlu menjadi ruang refleksi terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat Papua. Gangguan keamanan dan berbagai tantangan sosial dinilai dapat membatasi ruang gerak pemuda dalam mengembangkan kapasitas serta mempersiapkan diri menghadapi 2045.

Gerad mendorong pemuda agar tidak berhenti pada keluhan, tetapi turut menyampaikan gagasan, kritik konstruktif, dan solusi melalui kolaborasi dengan pemerintah. Keterlibatan tersebut diharapkan dapat mendorong kebijakan yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat, khususnya generasi muda Papua.

Salah satu pertanyaan reflektif yang diangkat Gerad berkaitan dengan posisi orang Papua pada 2045: apakah mereka masih memegang peran penting di tanahnya sendiri? Pertanyaan tersebut menegaskan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia, akses pendidikan, pengembangan keterampilan, serta ruang partisipasi bagi pemuda sejak sekarang.

Menurut Gerad, upaya tersebut membutuhkan dukungan pemerintah daerah, lembaga pendidikan, organisasi mahasiswa, dan komunitas pemuda. Konsolidasi antarkelompok juga diperlukan agar generasi muda dapat memperkuat kontribusi dalam pembangunan dengan tetap menjaga persatuan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pendidikan dan ruang partisipasi perlu diperkuat

Ketua Badan Pengawas Pemilihan Umum Provinsi Papua Barat Daya, Faril Sampetoding Rego, S.Pi., turut menyoroti hambatan yang dihadapi pemuda Papua, termasuk persoalan keamanan dan sosial.

Pemuda perlu memperoleh ruang yang memadai untuk berkembang, menyampaikan gagasan, serta berkontribusi dalam pembangunan. Generasi muda juga didorong menyampaikan kritik yang konstruktif dan solusi kepada pemerintah agar kebijakan yang dihasilkan lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat Papua.

Pendidikan, kolaborasi, dan keterlibatan pemuda dalam memberikan masukan terhadap kebijakan menjadi bagian penting dalam mempersiapkan generasi muda menuju Indonesia Emas 2045.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Sorong, Dr. Amatus Turot, S.Hut., M.Si., menekankan pentingnya mendorong pemuda memanfaatkan perkembangan teknologi secara produktif. Media sosial perlu digunakan secara kritis dan bertanggung jawab, termasuk untuk pengembangan diri serta penyampaian aspirasi melalui cara-cara yang positif.

Amatus juga menekankan pentingnya kolaborasi antarpemangku kepentingan dalam menjawab persoalan generasi muda. Pembinaan dan pendidikan mengenai kehidupan bermasyarakat serta bernegara diperlukan agar pemuda dapat berpartisipasi secara konstruktif.

Menyiapkan generasi menuju Indonesia Emas 2045

Diskusi tersebut menegaskan bahwa masa depan pemuda Papua tidak cukup hanya ditopang oleh semangat. Kesiapan sumber daya manusia, akses pendidikan, keterampilan, dan kesempatan untuk berpartisipasi dalam pembangunan juga perlu diperkuat.

Kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, organisasi kepemudaan, dan masyarakat diharapkan dapat membuka ruang lebih luas bagi generasi muda untuk berkembang dan mengambil peran strategis dalam menentukan masa depan Tanah Papua menuju Indonesia Emas 2045.