Loading
Rencana penggabungan tiga anak usaha Pertamina di sektor hilir dinilai sebagai langkah korporasi yang patut diapresiasi karena memiliki dasar bisnis kuat untuk meningkatkan kinerja perusahaan secara menyeluruh.
Direktur Pusat Kebijakan Publik (Puskepi) Sofyano Zakaria mengatakan langkah tersebut berpotensi meningkatkan kinerja perusahaan, efisiensi biaya, hingga perolehan laba.
Pemerintah melalui Danantara saat ini memfinalisasi penggabungan PT Pertamina Patra Niaga (PPN), PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), dan PT Pertamina International Shipping (PIS).
“Langkah merger ini merupakan strategi yang rasional, terukur, dan memiliki dasar kuat dalam upaya meningkatkan kinerja perusahaan, baik dari sisi operasional, efisiensi biaya, maupun perolehan laba,” katanya dalam keterangan tertulis.
Menurut Sofyano, merger bukan sekadar penyederhanaan struktur organisasi, melainkan bagian dari transformasi bisnis yang selama ini dibutuhkan di tubuh Pertamina Group.
Ia menilai pemisahan fungsi antara pengolahan (kilang), pengangkutan (shipping), serta distribusi dan niaga selama ini terlalu kaku, padahal ketiganya berada dalam satu rantai nilai yang saling berkaitan.
“Dengan integrasi ketiga entitas tersebut, koordinasi operasional dinilai akan menjadi lebih efektif. Proses pengadaan, pengiriman, pengolahan, hingga distribusi produk BBM dan turunannya dapat berada dalam satu kendali manajemen yang terintegrasi sehingga meminimalkan tumpang tindih kebijakan serta mempercepat proses logistik,” jelasnya.
Selain itu, integrasi dinilai dapat mengurangi biaya operasional yang selama ini muncul akibat birokrasi antarperusahaan dalam satu grup. Hal ini diyakini berdampak langsung pada peningkatan margin keuntungan dan daya saing perusahaan.
Sofyano menambahkan, integrasi bisnis dari pengolahan hingga distribusi merupakan praktik yang lazim dilakukan perusahaan minyak kelas dunia. Model tersebut memungkinkan perusahaan mengendalikan biaya produksi, transportasi, dan distribusi secara lebih presisi.
Ia juga menilai potensi efisiensi dari merger ini cukup besar, mengingat selama ini masing-masing entitas memiliki struktur manajemen, sistem administrasi, serta kebijakan operasional yang berdiri sendiri.
Meski demikian, Sofyano menekankan keberhasilan merger tidak hanya ditentukan kebijakan struktural, tetapi juga kualitas kepemimpinan yang menjalankannya. Menurut dia, publik akan menaruh perhatian pada kompetensi dan integritas manajemen yang nantinya memimpin entitas hasil penggabungan tersebut.
Secara keseluruhan, ia menilai kebijakan merger ini sebagai langkah tepat untuk memaksimalkan kinerja keuangan Pertamina Group melalui integrasi fungsi kilang, pelayaran, dan niaga dalam satu manajemen yang lebih efisien dan kompetitif.
Sumber: beritasatu.com