Malang, 23 April 2026 – Tekanan terhadap nilai tukar rupiah kembali menjadi perhatian pelaku ekonomi di daerah, termasuk di Kota Malang. Pada perdagangan hari ini, rupiah tercatat berada di kisaran Rp17.200–Rp17.300 per dolar AS, melanjutkan tren pelemahan dalam beberapa pekan terakhir.
Pelaku usaha di Malang mulai merasakan dampak langsung dari depresiasi rupiah, terutama bagi sektor yang bergantung pada bahan baku impor. Kenaikan biaya produksi dinilai tidak lagi dapat sepenuhnya ditahan, sehingga berpotensi mendorong kenaikan harga di tingkat konsumen.
“Kalau rupiah terus melemah seperti ini, margin kami makin tertekan. Mau tidak mau harga jual akan disesuaikan,” ujar salah satu pengusaha manufaktur di kawasan industri Malang.
Sejumlah pengamat ekonomi menilai respons pemerintah terhadap pelemahan rupiah masih belum cukup kuat untuk meredam gejolak pasar. Meski Bank Indonesia telah melakukan intervensi di pasar valuta asing, langkah tersebut dianggap belum mampu mengubah sentimen secara signifikan.
Di tingkat masyarakat, pelemahan rupiah mulai terasa melalui kenaikan harga barang impor dan potensi inflasi. Produk elektronik, bahan pangan tertentu, hingga biaya pendidikan luar negeri diperkirakan akan semakin mahal jika tren ini berlanjut.
Selain itu, pelaku UMKM di Malang juga menghadapi dilema antara menjaga daya beli konsumen dan mempertahankan kelangsungan usaha di tengah biaya yang meningkat.
Ke depan, pergerakan rupiah masih akan sangat bergantung pada dinamika global, termasuk kebijakan suku bunga Amerika Serikat dan arus modal asing. Namun demikian, tanpa langkah domestik yang lebih kuat, tekanan terhadap rupiah berpotensi berlanjut.
Situasi ini menjadi ujian bagi pemerintah untuk menunjukkan efektivitas kebijakan ekonomi dalam menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus melindungi sektor riil di daerah.