Loading
Beberapa hari terakhir linimasa dipenuhi potongan video Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang “dicecar” mahasiswa UI soal pajak. Narasinya simpel: Sri Mulyani bungkam, mahasiswa menang, pemerintah malu. Kedengarannya heroik, tapi jujur saja—itu framing murahan.
Mari kita bedah dengan jujur, tanpa basa-basi.
Banyak yang teriak “orang tua kami dipajaki, Bu!”. Ya benar, semua warga negara bayar pajak. Tapi coba tanya balik: listrik jalan, kampus bisa berdiri, subsidi BBM masih ada, gaji dosen cair, itu dari mana? Dari pajak. Negara ini nggak bisa hidup dari utang terus, apalagi kalau rakyatnya maunya enak dipelihara tanpa kontribusi. Jadi, narasi seolah pajak itu kezaliman adalah omong kosong.
Mahasiswa ribut soal pemotongan transfer daerah. Padahal faktanya, bukan semua dipotong, tapi disesuaikan dengan kinerja dan kebutuhan riil. Kalau dana daerah cuma jadi bancakan pejabat lokal, apa kita harus pura-pura nggak tahu? Percuma pemerintah pusat kirim triliunan kalau di bawah bocor habis.
Potongan video yang viral itu sengaja dipelintir. Sri Mulyani sedang dikerubungi massa, dengan kondisi tidak kondusif untuk diskusi sehat. Dia memilih diam karena menghormati prosedur—bukan karena nggak bisa jawab. Jujur saja, kalau kamu dicegat ramai-ramai, teriak-teriakan, apa iya bisa jelasin APBN dengan tenang?
Postingan medsos menambah bumbu: DPR diam karena sudah disuap gaji dan tunjangan. Sekali lagi, itu framing. Kritik ke DPR sah-sah saja, tapi jangan diseret untuk mendeligitimasi kebijakan fiskal. Ingat, pajak itu bukan uang buat DPR belanja, tapi sumber pendanaan negara yang kembali ke rakyat lewat infrastruktur, subsidi, bantuan sosial, hingga dana pendidikan.
Kritikan mahasiswa sah, wajar, dan memang perlu ada check and balance. Tapi kalau hanya modal teriak, framing, dan potongan video setengah menit lalu diviralkan dengan judul bombastis, itu bukan perjuangan intelektual—itu cari sensasi.
Pajak itu bukan alat penjajahan, tapi tanggung jawab. Sri Mulyani bukan musuh mahasiswa, tapi salah satu sedikit pejabat yang berani pasang badan biar APBN nggak jebol. Kalau masih mau debat, ayo buka data, duduk di forum resmi. Jangan cuma teriak di lorong kampus lalu bangga karena berhasil bikin headline.