Loading
Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat program makan bergizi gratis (MBG) memberikan dampak signifikan terhadap penciptaan lapangan kerja dan penguatan ekonomi masyarakat. Selama satu tahun pelaksanaannya, program ini telah menyerap 789.318 tenaga kerja di satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) serta melibatkan 46.955 supplier secara tidak langsung.
Wakil Kepala BGN, Nanik S Deyang mengatakan tenaga kerja tersebut berperan langsung dalam mendukung operasional dapur MBG di berbagai daerah.
"Sebanyak 789.318 orang telah bekerja di SPPG, khususnya untuk mendukung operasional dapur MBG," kata Nanik S Deyang di SMK Negeri 1 Jakarta, Kamis (8/1/2026).
Selain menyerap tenaga kerja, program MBG juga melibatkan ribuan pelaku usaha dan lembaga ekonomi lokal dalam rantai pasok. Sebanyak 46.955 supplier yang terdiri dari UMKM, koperasi, BUMDes, BUMDesma, Kopdes Merah Putih, serta mitra lainnya berkontribusi aktif dalam penyediaan bahan pangan.
“Mulai dari pedagang pasar, petani, pelaku UMKM, koperasi, BUMDes, ibu rumah tangga, hingga para pekerja dapur MBG yang bergotong royong menyiapkan makanan bergizi terbaik untuk anak-anak Indonesia,” ujar Nanik.
Nanik menjelaskan, capaian program MBG selama satu tahun berjalan melampaui target awal. Jumlah penerima manfaat meningkat signifikan dari rencana awal 6 juta orang menjadi 55,1 juta penerima manfaat yang tersebar di 38 provinsi, dengan dukungan 19.188 SPPG yang beroperasi di seluruh Indonesia.
"Program ini tidak hanya dirasakan manfaatnya oleh anak-anak sekolah, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui, tetapi juga memberikan dampak sosial dan ekonomi yang signifikan bagi masyarakat," jelasnya.
Meski menunjukkan capaian positif, BGN mengakui masih terdapat sejumlah tantangan dan kekurangan dalam pelaksanaan program MBG. Untuk itu, BGN berkomitmen melakukan evaluasi dan perbaikan berkelanjutan, yang diperkuat melalui penerbitan Peraturan Presiden Nomor 115 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Program Makan Bergizi Gratis.
Regulasi tersebut menjadi dasar penguatan tata kelola, peningkatan kualitas gizi, jaminan keamanan pangan, serta pengawasan dapur MBG dengan pendekatan zero-defect.
Sumber: beritasatu.com