Direktur Aspirasi Soroti Pencatutan Nama BEM Kendal dalam Isu Tambang Galian C


  • 25 
  • Friday, 16 May 2025 
  • Ryin

Direktur Aspirasi Soroti Pencatutan Nama BEM Kendal dalam Isu Tambang Galian C

KENDAL – Direktur Aspirasi sekaligus pengamat politik, Danang Afi, menyampaikan keprihatinannya atas munculnya pemberitaan di sejumlah media massa yang mencatut nama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Kendal dalam isu tambang Galian C. Menurutnya, tidak terdapat keterlibatan langsung organisasi mahasiswa tersebut dalam dinamika yang sedang terjadi, sehingga penyebutan nama mereka dinilai tidak etis dan berpotensi memicu kesalahpahaman publik.

“Manipulasi opini publik, tak ayal penulis menyebutnya demikian. Penggunaan nama organisasi mahasiswa dan foto tanpa konfirmasi bukan hanya memperkeruh suasana, tapi juga mencederai kepercayaan publik terhadap proses komunikasi politik,” ujar Danang, Jumat (16/5).

Ia menekankan pentingnya kejujuran dalam membangun narasi publik, terutama ketika menyangkut lembaga atau kelompok yang tidak secara langsung terlibat. Dalam konteks ini, ia mendorong penerapan prinsip keterbukaan, etika, dan tanggung jawab informasi oleh media maupun pihak-pihak terkait.

BEM Kendal sendiri menyampaikan sejumlah keberatan atas pemberitaan yang dinilai merugikan mereka, di antaranya:

  1. Pencatutan nama tanpa izin dalam pemberitaan aksi demonstrasi di beberapa media, seperti denpasar.wartakini.co.id, Tribunjateng.com, dan banyumas.tribunnews.com.

  2. Penggunaan foto tanpa izin, di mana gambar yang dimuat oleh Tribunjateng.com berasal dari kegiatan diskusi internal BEM Kendal, bukan dari aksi demonstrasi terkait Galian C.

Danang menambahkan, pemberitaan yang tidak akurat seperti ini berpotensi melukai asas demokrasi sehat, terutama dalam hal kejujuran dan keterbukaan. “Coba pembaca renungkan, bagaimana jika suatu legitimasi kebijakan dibentuk berdasarkan jarene kae (katanya dia), tanpa ada verifikasi lapangan yang nyata?” katanya.

Ia juga menyoroti aspek sensitif dalam penyebaran foto, mengingat identitas personal mahasiswa yang terlihat jelas di media massa. Hal ini, menurutnya, bisa memicu konflik dan membuka ruang konfrontasi antara pihak-pihak yang merasa dirugikan.

“Ini bukan sekadar soal pro dan kontra terhadap pertambangan. Ini menyangkut prinsip kejujuran dalam informasi, serta upaya menjaga netralitas gerakan mahasiswa dari kepentingan oknum atau politik praktis,” tutup Danang.