Loading
Penghentian sementara insentif Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama masa libur sekolah menimbulkan kesulitan bagi para pengelola dapur di Jawa Timur. Para pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) berharap pemerintah dapat meninjau kembali kebijakan tersebut agar operasional program tetap berjalan dan keberlangsungan usaha mitra tetap terjaga.
Mereka menilai kebijakan penghentian operasional sementara perlu mempertimbangkan dampak terhadap para mitra yang selama ini berperan dalam mendukung pelaksanaan program MBG.
Gabungan Pengusaha Makan Bergizi Indonesia (GAPEMBI) Jawa Timur berpandangan bahwa perlu ada langkah solusi yang dapat mengakomodasi kepentingan pemerintah tanpa mengabaikan keberlanjutan usaha pengelola SPPG.
Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) GAPEMBI Jawa Timur, Makhrus Sholeh, menyampaikan bahwa penghentian operasional selama masa libur sekolah sebaiknya dikaji secara lebih komprehensif agar tidak menimbulkan dampak ekonomi yang merugikan, khususnya bagi mitra yang telah menanamkan investasi dalam program tersebut.
Ia menjelaskan, sebagian besar mitra SPPG telah mengeluarkan modal cukup besar untuk membangun fasilitas dapur, membeli perlengkapan operasional, menyediakan armada distribusi, hingga memenuhi standar operasional yang telah ditentukan pemerintah.
Bahkan, tidak sedikit mitra yang menggunakan pembiayaan dari pihak ketiga maupun perbankan. "Teman-teman mitra banyak yang menggunakan dana pihak ketiga. Kalau pinjaman bank kan tidak mengenal waktu. Cicilan tetap harus dibayar setiap bulan," ujarnya ketika dikonfirmasi di Surabaya.
Makhrus menambahkan bahwa selama operasional dihentikan, aset dapur tetap harus dirawat dan tidak dapat dialihkan untuk kepentingan lain, sementara biaya operasional tetap berjalan dan menjadi beban pengelola.
Karena itu, para mitra berharap pemerintah tetap memberikan insentif operasional SPPG selama masa libur sekolah."Kami berharap ini bisa dikaji. Karena dapurnya tidak dipakai, tidak operasional, tetapi fasilitas tetap harus dijaga. Dari sisi bisnis tentu ada biaya yang tetap berjalan," katanya.
Lebih lanjut, Makhrus menilai keberhasilan pembangunan ribuan dapur MBG di berbagai daerah selama ini tidak terlepas dari adanya kepastian usaha yang menjadi dasar pertimbangan para mitra untuk ikut berinvestasi. Menurutnya, jika skema program hanya mengandalkan semangat sosial tanpa memperhatikan kesinambungan usaha, maka minat investasi dari pihak swasta akan sulit berkembang.
"Program ini tentu memiliki misi sosial yang sangat mulia. Tetapi di sisi lain, para mitra juga mengeluarkan investasi dan memiliki kewajiban finansial yang harus dipenuhi. Karena itu kami berharap ada solusi yang bersifat win-win solution," tuturnya.
Secara umum, GAPEMBI menyatakan tetap mendukung penuh Program MBG sebagai salah satu program strategis nasional. Program tersebut dinilai memberikan manfaat luas, baik dari sisi sosial maupun ekonomi.
"Kami menyampaikan aspirasi bahwa program ini harus terus berlanjut. Karena ini program mulia untuk memberi makan generasi emas ke depan. Dampaknya juga sangat bagus dalam menyerap tenaga kerja. Banyak pengangguran terserap, UMKM bergerak, supplier bahan pangan, hingga petani sudah merasakan manfaatnya," kata Makhrus.
Meski demikian, GAPEMBI berharap pemerintah dapat membuka ruang komunikasi dan dialog bersama para mitra guna mencari formulasi terbaik selama masa libur sekolah. Dengan demikian, efisiensi anggaran tetap dapat dijalankan tanpa mengganggu keberlangsungan usaha para mitra pendukung Program MBG.