Harga Telur Anjlok, Pemprov Jatim Genjot Penyerapan



Harga Telur Anjlok, Pemprov Jatim Genjot Penyerapan

Surabaya – Pemerintah Provinsi Jawa Timur menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Stabilisasi Pasokan dan Harga Telur Ayam Ras sebagai langkah merespons penurunan harga telur yang terjadi di sejumlah wilayah di Jawa Timur. Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, mengatakan pemerintah daerah terus berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) dan berbagai asosiasi peternak untuk meningkatkan penyerapan telur melalui koperasi peternak. Langkah ini diharapkan dapat membantu mengembalikan harga telur ke tingkat yang lebih menguntungkan bagi peternak.Menurut Emil, harga telur yang sempat berada di kisaran Rp20.000 hingga Rp20.500 per kilogram telah menempatkan peternak pada kondisi merugi karena berada di bawah biaya produksi. Pemprov Jatim menargetkan harga telur di tingkat peternak dapat kembali berada di kisaran Rp24.000 per kilogram guna menjaga keberlanjutan usaha peternakan ayam petelur.Salah satu strategi yang didorong adalah optimalisasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Selain berfungsi memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, program tersebut dinilai dapat menjadi instrumen untuk menyerap hasil produksi peternak secara lebih optimal.Pemprov Jatim juga berupaya memperluas distribusi telur ke berbagai daerah yang memiliki kebutuhan pasokan. Selama ini, sentra produksi telur seperti Kabupaten Blitar menghasilkan produksi dalam jumlah besar yang tidak seluruhnya dapat diserap pasar lokal.Berdasarkan hasil pemetaan pemerintah daerah, sejumlah wilayah masih membutuhkan tambahan pasokan telur. Salah satunya adalah Kabupaten Nganjuk, yang kebutuhannya belum sepenuhnya dapat dipenuhi oleh peternak setempat. Kondisi ini membuka peluang distribusi telur dari Blitar ke daerah tersebut.Selain memperluas pasar, Pemprov Jatim juga menyoroti rantai distribusi yang dinilai masih terlalu panjang. Meski telur yang digunakan untuk kebutuhan dapur MBG dibeli dengan harga relatif baik, pembelian sering kali tidak dilakukan langsung dari peternak. Akibatnya, peternak hanya menerima harga sekitar Rp20.000 per kilogram, sementara telur yang sama dapat masuk ke dapur MBG dengan harga sekitar Rp25.000 per kilogram.Untuk meningkatkan kesejahteraan peternak, pemerintah mendorong skema pembelian langsung melalui koperasi peternak. Dengan mekanisme tersebut, margin yang selama ini dinikmati perantara diharapkan dapat lebih banyak diterima oleh peternak sebagai produsen.Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan Jawa Timur, Indyah Aryani, menilai penyerapan telur melalui program MBG saja belum mampu mengatasi surplus produksi telur yang terjadi di Jawa Timur. Menurutnya, volume produksi telur masih jauh lebih besar dibandingkan kebutuhan yang dapat diserap program tersebut.Karena itu, selain meningkatkan penyerapan melalui MBG, pemerintah daerah juga terus berupaya membuka akses pasar baru di luar daerah guna menyalurkan kelebihan produksi yang ada.Dalam rakor tersebut, Pemprov Jatim turut membahas peluang pelibatan aparatur sipil negara (ASN) dalam menyerap produksi telur lokal. Skema pembelian bersama yang telah diterapkan di Kabupaten Magetan dinilai dapat menjadi model yang dapat direplikasi di daerah lain.Melalui berbagai upaya tersebut, Pemprov Jatim berharap stabilitas harga telur dapat segera terjaga sekaligus mendukung keberlangsungan usaha peternak ayam petelur di Jawa Timur.