Loading
Jakarta - Jujur aja, gak ada orang yang seneng kalau iuran naik. Rakyat pasti kaget, marah, sampai ngerasa dikhianati. Tapi mari kita buka kartu di meja: biaya kesehatan di Indonesia tiap tahun jebol triliunan rupiah. Operasi jantung, cuci darah, kanker—semuanya mahal banget. Dan faktanya, BPJS defisit terus kalau iuran gak disesuaikan. Kalau dipaksa tetap murah, jangan kaget suatu hari nanti malah antri di RS tapi BPJS gak bisa dipakai.
Sekarang soal DPR, iya kita semua tau gajinya besar, tunjangannya bikin geleng-geleng. Tapi ingat, itu bukan alasan buat BPJS tetap rugi dan rakyat jadi korban. Ngamuk soal DPR boleh, tapi jangan sampai bikin kita gagal paham bahwa layanan kesehatan itu harus punya dana cukup. Negara bukan mesin cetak duit, dan kalau sistem jebol, yang pertama kali rugi ya rakyat juga.
Naiknya iuran ini sebenarnya bukan buat nyusahin, tapi supaya RS tetap jalan, obat tetap ada, dan masyarakat tetap bisa berobat tanpa keluar biaya jutaan rupiah. Bayar Rp15 ribuan tambahan sebulan memang berat buat sebagian orang, tapi coba dibandingkan: kalau sakit parah dan harus rawat inap, berapa biaya yang bisa diselamatkan? Jutaan, bahkan puluhan juta.
Brutally honest: kalau kita maunya iuran murah, tunjangan DPR dipangkas, pajak gak naik, subsidi tetap jalan, ya siap-siap aja nunggu negara kolaps. Gak ada sihir yang bisa bikin semuanya gratis.