Loading
Film Harmoni
produksi Rekam Films dan Teras Mitra, dengan dukungan GEF SGP Indonesia dan
UNDP Indonesia, mengangkat berbagai isu strategis seperti lingkungan hidup,
persoalan sosial, kearifan lokal, serta dampak perubahan iklim. Film ini
disutradarai oleh Yuda Kurniawan, peraih Piala Citra FFI 2018 melalui karya dokumenternya
“Nyanyian Akar Rumput”.
Turut hadir dalam ruang diskusi tersebut diantaranya Sutradara Film Hamroni, Yuda Kurniawan; Penulis Skenario, Misya Latief; Aktor Film Harmoni, Bunaeri; dan Pameran Pendukung Film Hamroni, Fatra Hala.
Film Harmoni berdurasi 115 menit ini diadaptasi dari kisah nyata yang mengangkat dinamika kehidupan dua keluarga petani di Bali dan Gorontalo dalam menghadapi tekanan perubahan lingkungan dan krisis iklim. Di Nusa Lembongan, Bali, Made yang menggantungkan hidup sebagai petani rumput laut yang berjuang mempertahankan mata pencahariannya di tengah pesatnya perkembangan industri pariwisata yang dinilai berpotensi mengancam keberlangsungan ekosistem laut serta ruang hidup masyarakat pesisir. Sementara itu, di kawasan transmigrasi Desa Saritani, Gorontalo, Tuwarno yang berprofesi sebagai petani jagung harus menghadapi dampak kemarau panjang yang memicu bencana kekeringan dan mengganggu keberlangsungan sektor pertanian. Situasi tersebut kemudian mendorong Tuwarno untuk kembali menerapkan pola pertanian yang ramah lingkungan dengan berlandaskan pada nilai-nilai kearifan lokal sebagai upaya menjaga keseimbangan alam sekaligus mempertahankan keberlangsungan hidup masyarakat setempat.
Film Harmoni menghadirkan potret mendalam mengenai pentingnya menjaga hubungan yang selaras antara manusia dan alam sebagai fondasi utama keberlangsungan hidup masyarakat. Melalui penggambaran kehidupan masyarakat pesisir dan pegunungan, film ini menyoroti bagaimana kearifan lokal, kepedulian terhadap lingkungan, serta hubungan yang harmonis dengan alam menjadi bagian penting dalam menghadapi berbagai tantangan ekologis dan perubahan iklim. Film Harmoni melibatkan para pemeran yang berasal langsung dari daerah setempat serta menggunakan bahasa lokal dalam dialognya, sehingga mampu menghadirkan nuansa yang autentik, dekat dengan realitas kehidupan masyarakat, dan memperkuat representasi budaya lokal dalam alur cerita yang disajikan.