Loading
Lubuklinggau, 26 Februari 2025 – Jumlah pendaftar Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Kota Lubuklinggau mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya. Berdasarkan data Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kota Lubuklinggau, hingga Februari 2025 hanya terdapat empat orang yang mendaftar sebagai TKI dengan tujuan ke Turki, Arab Saudi, Taiwan, dan Polandia.
Sementara itu, pada tahun 2024, jumlah pendaftar TKI tercatat sebanyak 19 orang yang tersebar di berbagai kecamatan, dengan rincian:
•Lubuklinggau Timur II: 6 orang
•Lubuklinggau Barat I: 5 orang
•Lubuklinggau Utara II: 3 orang
•Lubuklinggau Timur I: 3 orang
•Lubuklinggau Barat II: 1 orang
•Lubuklinggau Selatan I: 1 orang
Menurut M. Geraldi Prihandana, S.Sos, Pengantar Kerja Ahli Muda Disnaker Lubuklinggau, salah satu faktor yang mendorong masyarakat memilih menjadi TKI adalah ketatnya persyaratan kerja dalam negeri, seperti batasan usia dan kriteria penampilan dalam berbagai lowongan pekerjaan.
Untuk memberikan alternatif selain bekerja di luar negeri, Disnaker Lubuklinggau terus mengembangkan program pelatihan pencari kerja berbasis kewirausahaan. Berbagai pelatihan yang disediakan meliputi:
•Pembuatan kue
•Teknisi AC
•Menjahit
•Instalasi listrik
•Content creator
Masyarakat yang ingin mengikuti pelatihan kewirausahaan dapat mendaftar melalui sosial media Facebook : Dinas Ketenagakerjaan Kota Lubuklinggau.
Pelatihan ini dilakukan di kantor Disnaker Lubuklinggau. Durasi pelatihan berbeda-beda, rata-rata berlangsung selama satu bulan, kecuali pelatihan content creator yang hanya dua minggu. Program ini dibuka setiap triwulan sehingga masyarakat memiliki kesempatan mendaftar secara berkala.
Setelah mengikuti pelatihan, peserta dapat melamar pekerjaan secara mandiri. Sebelumnya, pada tahun 2018-2019, peserta pelatihan sempat disalurkan untuk magang ke beberapa perusahaan dengan biaya makan ditanggung oleh Disnaker. Namun, sejak pandemi COVID-19, program penyaluran magang ini dihentikan demi efisiensi.
Dengan berbagai upaya ini, Disnaker Lubuklinggau berharap masyarakat tidak hanya bergantung pada pekerjaan di luar negeri, tetapi juga mampu menciptakan peluang kerja sendiri melalui keterampilan yang diperoleh dari program pelatihan.