Loading
Tragedi memilukan yang menewaskan Thomas Julius Kristianto, siswa SMAN 11 Surabaya, memantik reaksi keras dari kalangan legislatif. Ketua Komisi A DPRD Surabaya, Yona Bagus Widyatmoko, memberikan apresiasi tertinggi kepada Polrestabes Surabaya atas kecepatan mereka dalam meringkus para tersangka. Menurutnya, peristiwa kelam ini menjadi catatan buruk bagi dunia pendidikan serta pola pergaulan remaja di Kota Pahlawan.
Sebagai langkah antisipasi agar kekerasan serupa tidak terulang, Yona mendesak Pemerintah Kota Surabaya untuk segera melakukan intervensi langsung ke sekolah-sekolah. Ia meminta Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) serta Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Surabaya untuk memaksimalkan program edukasi mereka. Program seperti Satpol PP Goes to School dinilai harus lebih gencar mendatangi lembaga pendidikan demi memperkuat pemahaman hukum sejak dini di kalangan pelajar.
Langkah preventif ini dirasa krusial karena minimnya pemahaman remaja terkait konsekuensi hukum dari sebuah konflik. Mahasiswa Doktoral Ilmu Hukum Unitomo Surabaya ini berharap, sosialisasi hukum yang masif dapat menyadarkan siswa bahwa tindakan anarkis memiliki dampak panjang. Remaja perlu memahami bahwa emosi sesaat bukan hanya bisa merenggut nyawa orang lain, tetapi juga secara permanen menghancurkan masa depan dan cita-cita mereka sendiri akibat jerat pidana.
Di sisi lain, Yona juga menyoroti status hukum para pelaku yang ternyata merupakan teman sebaya korban. Mengingat usia mereka secara administratif sudah bisa dimintai pertanggungjawaban hukum, ia menegaskan tidak boleh ada toleransi atau keringanan dalam proses peradilan. Hukum harus ditegakkan secara tegas dan tanpa kompromi agar memberikan efek jera yang nyata bagi siapa saja yang melakukan tindakan kriminal.