Loading
TEMINABUAN — Anggota Komisi Tujuh DPR RI bersama Kemenparekraf menggelar aktivasi desa kreatif di Teminabuan pada Senin 26 Oktober 2026. Langkah ini bertujuan menggali potensi lokal guna meningkatkan kesejahteraan mama mama Papua.
Kegiatan penting bertajuk Aktivasi Desa Kreatif Melalui Pengembangan Ruang Kreatif ini berlangsung penuh antusias di Gereja Martin Luther Wermit Kecamatan Teminabuan Kabupaten Sorong Selatan. Sebanyak enam puluh mama mama Papua dari berbagai distrik hadir menyemarakkan acara yang turut dihadiri langsung oleh Anggota Komisi Tujuh DPR RI Rico Sia serta perwakilan pemerintah daerah setempat. Kehadiran tokoh nasional ini memberikan angin segar sekaligus motivasi besar bagi para pelaku usaha kecil menengah di tingkat kampung untuk berani berinovasi.
Dalam arahannya Rico Sia menegaskan bahwa kebangkitan ekonomi masyarakat tidak bisa selamanya hanya mengandalkan kucuran dana maupun program dari pemerintah semata. Keterbatasan anggaran negara menuntut warga untuk lebih proaktif dan inovatif dalam menciptakan peluang usaha kerakyatan secara mandiri dengan memanfaatkan potensi di sekitar mereka. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memaksimalkan fungsi ruang publik yang ada seperti bangunan gereja maupun balai desa sebagai wadah interaktif untuk bertukar gagasan kreatif dan merintis usaha bersama.
Pihaknya secara khusus menyoroti tingginya nilai jual kerajinan lokal seperti noken asal wilayah Waigo yang dinilai sangat layak untuk dipasarkan hingga ke tingkat nasional. Guna mendukung terwujudnya hal tersebut Rico Sia mengusulkan agar pemerintah daerah segera merancang penyediaan ruang pemasaran terpusat bagi berbagai produk kerajinan masyarakat. Ia mencontohkan keberhasilan pusat jualan oleh oleh Krisna di Bali yang mampu memfasilitasi berbagai produk lokal sehingga jangkauan pasarnya menjadi sangat luas dan terpadu.
Selain memikirkan fasilitas wadah jualan fisik kegiatan aktivasi ini juga difokuskan pada penguatan kapasitas warga melalui pelatihan promosi produk secara digital dengan memanfaatkan telepon genggam dan media sosial. Ketua Panitia Windah Rosanti menambahkan bahwa ajang kumpul ini sekaligus dimanfaatkan untuk melakukan pemetaan potensi ekonomi spesifik pada masing masing desa. Nantinya data hasil wawancara tersebut akan dibawa langsung ke Jakarta sebagai landasan perumusan program pendampingan lanjutan dari kementerian terkait agar intervensi yang diberikan lebih tepat sasaran.
Untuk memperkuat ekosistem tersebut Rico Sia turut menyoroti potensi besar Kampung Wisata Klogin yang saat ini sedang disiapkan menuju kemandirian. Ia menggagas sebuah skema inovatif yang mengawinkan langsung sektor pariwisata dengan para pelaku usaha mikro kecil dan menengah agar dagangan warga otomatis laku terjual.
Tokoh nasional itu menyarankan pemerintah daerah menerapkan kebijakan biaya tambahan tiket masuk kawasan wisata sebesar lima puluh ribu hingga seratus ribu rupiah. Menariknya dana tambahan tersebut tidak akan menguap begitu saja melainkan langsung ditukar dan dikembalikan kepada para pelancong dalam wujud suvenir atau oleh oleh khas buatan warga setempat.
Melalui skema cerdas ini wisatawan akan pulang membawa buah tangan berkesan sementara produk hasil kreativitas masyarakat desa terserap pasar tanpa harus susah payah mencari pembeli. Ia meyakini peningkatan kualitas kerajinan yang dibarengi sistem terintegrasi ini akan menciptakan iklim bisnis mandiri sehingga warga tidak lagi melulu bergantung pada proposal bantuan pemerintah.
Di sela sela pembahasan ekonomi Rico Sia juga menitipkan pesan perdamaian dengan mengingatkan bahwa perbedaan agama dan bahasa tidak seharusnya menjadi penghalang persaudaraan karena masyarakat memiliki ikatan leluhur yang sama. Kolaborasi erat yang dilandasi kerukunan antara kementerian pemerintah daerah dan para pelaku usaha lokal ini diyakini akan menjadi kunci utama keberhasilan program. Melalui sinergi lintas sektor seluruh karya kebanggaan Sorong Selatan diharapkan mampu menembus pasar luar daerah dan membawa dampak kesejahteraan yang nyata bagi keluarga