Loading
Jakarta – Menteri Luar Negeri RI Sugiono bersama Menteri Luar Negeri Vietnam Lê Hoài Trung menandatangani Joint Press Statement usai Pertemuan Joint Commission for Bilateral Cooperation (JCBC) Indonesia–Vietnam di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, Selasa (14/7/2026). Pertemuan tersebut menegaskan komitmen kedua negara untuk mengimplementasikan Kemitraan Strategis Komprehensif (Comprehensive Strategic Partnership) melalui penguatan kerja sama di berbagai sektor strategis.
Dalam pernyataannya, Menlu RI Sugiono mengatakan Indonesia dan Vietnam merupakan dua negara dengan ekonomi yang dinamis di kawasan Asia Tenggara yang memiliki visi bersama untuk menjaga ASEAN tetap damai, stabil, tangguh, dan sejahtera. Menurutnya, hubungan kedua negara dibangun atas dasar kemitraan sehingga peningkatan status hubungan menjadi Kemitraan Strategis Komprehensif harus diwujudkan melalui kerja sama yang nyata dan saling menguntungkan.
Sebagai langkah konkret, Indonesia dan Vietnam telah menandatangani Plan of Action yang akan menjadi pedoman pelaksanaan Kemitraan Strategis Komprehensif selama lima tahun ke depan. Kedua negara juga sepakat memperkuat implementasi kerja sama di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE), meningkatkan koordinasi di bidang pertahanan dan keamanan maritim, memberantas Illegal, Unreported, and Unregulated Fishing (IUU Fishing), serta memperkuat kerja sama dalam penanggulangan kejahatan lintas negara, termasuk narkotika dan psikotropika.
Di bidang ekonomi, kedua negara berkomitmen mencapai nilai perdagangan bilateral sebesar US$18 miliar pada 2028. Untuk mewujudkan target tersebut, Indonesia dan Vietnam akan menyelesaikan berbagai hambatan perdagangan dan investasi serta mempercepat implementasi berbagai kesepakatan dan nota kesepahaman yang telah disepakati. Selain itu, peluang kerja sama juga akan diperluas pada sektor pertanian, ilmu pengetahuan dan teknologi, rantai pasok industri, kendaraan listrik, serta ekonomi digital.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Vietnam Lê Hoài Trung menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Indonesia atas sambutan dan penyelenggaraan kunjungan delegasi Vietnam. Ia menegaskan bahwa hubungan Indonesia dan Vietnam memiliki fondasi sejarah yang kuat sejak dibangun oleh para pemimpin kedua negara, termasuk Presiden Soekarno, dan terus berkembang hingga meningkat menjadi Kemitraan Strategis Komprehensif setelah kunjungan Sekretaris Jenderal Partai Komunis Vietnam sekaligus Presiden Vietnam Tô Lâm ke Indonesia pada tahun sebelumnya.
Menurut Lê Hoài Trung, peningkatan status hubungan tersebut telah mendorong perluasan kerja sama di berbagai bidang, mulai dari politik, ekonomi, perdagangan, pertahanan, keamanan, pendidikan, kebudayaan, hingga hubungan antarmasyarakat. Ia optimistis nilai perdagangan bilateral bahkan dapat mencapai target US$18 miliar lebih cepat dari waktu yang telah ditetapkan.
Lê Hoài Trung juga menyoroti meningkatnya konektivitas udara antara kedua negara melalui pembukaan rute penerbangan langsung yang menghubungkan Hanoi, Ho Chi Minh City, dan Da Nang dengan Jakarta, Bali, Medan, serta Surabaya. Menurutnya, peningkatan konektivitas tersebut turut mendorong kenaikan jumlah wisatawan Indonesia ke Vietnam sekitar 30 persen hingga April 2026.
Selain itu, kedua negara menyepakati penguatan kerja sama politik melalui peningkatan hubungan antarpemerintah, antarparlemen, dan antarpartai politik, serta memperluas kerja sama di bidang pertahanan dan keamanan. Indonesia dan Vietnam juga berkomitmen memperkuat koordinasi di berbagai forum regional maupun global guna mendukung perdamaian, stabilitas, dan kerja sama internasional, termasuk menjaga perdamaian dan keamanan di Laut Cina Selatan.