Loading
Jakarta – Komunitas Masyarakat Peduli Ciliwung dan Lingkungan Hidup (Mat Peci) menilai persoalan banjir akibat luapan Sungai Ciliwung masih menjadi ancaman tahunan bagi warga Jakarta dan wilayah sekitarnya. Hal tersebut disampaikan oleh Usman Firdaus, S.Kom selaku Pendiri dan Ketua komunitas Mat Peci.
Menurut Mat Peci, pola banjir Jakarta akibat luapan Sungai Ciliwung kini tidak lagi mengenal siklus lima tahunan seperti sebelumnya. “Sekarang banjir hampir terjadi setiap tahun, meskipun normalisasi sungai sudah berjalan,” ujar Usman.
Secara kondisi fisik, kedalaman Sungai Ciliwung saat musim kemarau hanya setinggi pinggang orang dewasa. Namun, saat musim penghujan, kedalamannya bisa mencapai rata-rata dua meter. Pendangkalan akibat limpahan lumpur dari hulu menjadi salah satu faktor utama. Meski pengerukan telah dilakukan sejak April 2025, progresnya dinilai lambat dan belum optimal.
Mat Peci menekankan bahwa banjir di Jakarta sangat dipengaruhi curah hujan di wilayah hulu, yakni Bogor dan Depok. “Kalau hujan seharian di Jakarta, biasanya masih aman. Tapi jika hujan lebih dari dua jam di hulu, potensi luapan sangat besar,” jelasnya. Pada 13 Februari 2026 lalu, luapan sungai sempat merendam sejumlah wilayah dengan ketinggian air mencapai lutut orang dewasa, termasuk basecamp komunitas.
Terkait pengendalian banjir, Mat Peci menilai perlu adanya pembangunan bendungan di wilayah Depok untuk menahan debit air dari hulu sebelum masuk ke Jakarta. Sementara itu, keberadaan Bendungan Katulampa di Bogor dinilai lebih berfungsi sebagai pintu air dan belum cukup efektif dalam menahan volume air secara signifikan.
Selain pembangunan bendungan, komunitas juga mendorong percepatan normalisasi sungai dengan fokus pada penataan kawasan, pelebaran, dan pembangunan tanggul, terutama di wilayah hulu yang banyak mengalami alih fungsi bantaran menjadi pemukiman dan bangunan.
Di sisi lain, masyarakat yang tinggal di bantaran Sungai Ciliwung dinilai sudah relatif siap menghadapi banjir. Posko darurat biasanya cepat didirikan, dan koordinasi penanganan berlangsung cukup baik. Mat Peci mengakui komunikasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), BPBD, dan Basarnas berjalan efektif, khususnya dalam mitigasi dan respons banjir.
Namun demikian, komunitas berharap pemerintah daerah tidak hanya melibatkan relawan saat terjadi bencana saja, melainkan juga dalam perencanaan, pencegahan, dan penguatan kapasitas masyarakat secara berkelanjutan.“Komunitas lingkungan harus dipandang sebagai mitra strategis jangka panjang, bukan sekadar pelengkap saat darurat,” tegas Usman.
Komunitas Mat Peci berdiri sejak 2006 dengan fokus pada pelestarian Sungai Ciliwung dan lingkungan hidup. Saat ini, komunitas tersebut memiliki sekitar 50 anggota aktif serta jaringan relawan yang bergerak di isu sungai dan lingkungan. Selain aksi kebencanaan, Mat Peci juga menjalankan program konservasi dan edukasi seperti pemberdayaan masyarakat, peningkatan kesadaran lingkungan, urban farming, eduwisata, hingga Sekolah Sungai Ciliwung.