Loading
Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap berjalan selama bulan Ramadan dengan penyesuaian mekanisme, bukan penghentian. Pemerintah menegaskan bahwa perubahan ini dilakukan untuk menyesuaikan dengan ibadah puasa, sekaligus memastikan tujuan utama program, pemenuhan gizi anak, balita, serta ibu hamil dan menyusui, tetap tercapai secara konsisten.
Selama Ramadan, MBG tidak disajikan sebagai makanan siap santap di siang hari bagi peserta yang berpuasa. Menu dialihkan menjadi paket makanan bergizi yang tahan disimpan dan dapat dibawa pulang untuk dikonsumsi saat berbuka atau sahur. Penyesuaian ini dilakukan tanpa mengurangi standar gizi, serta tetap menghormati praktik keagamaan peserta didik. Untuk kelompok non-puasa, layanan MBG tetap diberikan seperti biasa sesuai kondisi setempat.
Penyesuaian ini penting karena MBG sejak awal dirancang sebagai intervensi gizi, bukan sekadar program makan di sekolah. Konsistensi asupan nutrisi tetap dibutuhkan meski pola makan berubah selama Ramadan. Kekurangan gizi, meskipun bersifat sementara, dapat berdampak pada konsentrasi belajar, daya tahan tubuh, dan proses tumbuh kembang anak.
Di tengah pelaksanaan Ramadan, muncul kembali wacana agar MBG diganti dengan uang tunai. Namun secara kebijakan, opsi tersebut justru berisiko menurunkan efektivitas program. MBG bertujuan memastikan pemenuhan gizi yang terukur dan tepat sasaran. Penggantian dengan uang tidak menjamin dana tersebut digunakan untuk membeli makanan bergizi, terutama pada rumah tangga yang menghadapi tekanan ekonomi dan memiliki banyak kebutuhan mendesak.
Selain itu, sistem MBG memungkinkan pengawasan kualitas menu dan kandungan gizi secara langsung. Melalui standar penyediaan makanan, pemerintah dapat memastikan asupan protein, kalori, dan mikronutrien sesuai kebutuhan kelompok sasaran. Jika diganti dengan uang, kontrol terhadap kualitas dan kecukupan gizi sepenuhnya hilang, sehingga hasil program menjadi tidak merata dan sulit diukur.
Penggantian MBG dengan uang juga berpotensi memperlebar kesenjangan. Anak-anak dari keluarga dengan literasi gizi rendah atau akses pangan terbatas justru berisiko tidak memperoleh manfaat gizi yang memadai. Padahal, kelompok inilah yang menjadi fokus utama intervensi MBG. Di sisi lain, MBG turut menggerakkan ekonomi lokal melalui keterlibatan petani, UMKM pangan, dan dapur layanan gizi di daerah. Jika diganti uang, rantai pasok ini terputus dan dampak pengganda ekonomi di tingkat lokal ikut hilang.
Dengan penyesuaian yang dilakukan, Ramadan justru menunjukkan bahwa MBG adalah kebijakan yang adaptif tanpa kehilangan tujuan. Program ini tidak hanya menjawab kebutuhan jangka pendek, tetapi menjadi bagian dari investasi jangka panjang pada kualitas sumber daya manusia. Konsistensi pemenuhan gizi selama Ramadan menegaskan bahwa MBG bukan sekadar bantuan konsumsi, melainkan fondasi bagi kesehatan, pendidikan, dan produktivitas generasi masa depan.