Riuh Aksi, Senyap Persatuan



Riuh Aksi, Senyap Persatuan

Di tengah gemuruh langkah demonstran yang membawa poster-poster kelam bertuliskan “Indonesia Gelap”, di tengah teriakan-teriakan di jalanan yang menggelegar menembus beton kota, satu hal yang paling dirindukan justru tenggelam dalam keheningan: persatuan.

Gelombang aksi massa yang menggugat ini dan itu, ditanggapi dengan gelombang aksi tandingan yang tak kalah lantang. Di jalan raya, ruang publik, bahkan media sosial, pertarungan narasi kian memanas. Indonesia seperti panggung besar yang dijejali suara-suara nyaring, namun kehilangan kehendak bersama. Bhinneka Tunggal Ika kini seolah hanya selarik moto di dinding sekolah—lupa dipahami, apalagi dihayati.

"Indonesia Gelap" memang bukan tanpa alasan. Ia lahir dari keresahan: harga-harga naik, kepercayaan publik pada institusi menipis, dan ruang demokrasi yang dirasa mengecil. Tapi di balik kemarahan, terselip juga harapan—bahwa negeri ini masih mungkin diperbaiki. Aksi kontra pun muncul, tak ingin negeri tercabik oleh pesimisme. Tapi ketika dua kutub ini saling menegasikan, lupa ada tanah air yang lebih luas dari sekadar slogan atau simbol.

Kita hidup dalam negara demokratis, di mana unjuk rasa adalah bahasa warga. Tapi demokrasi bukan hanya tentang kebebasan berteriak, melainkan juga kematangan mendengar. Di titik inilah semua pihak diuji. Pemerintah diuji kebijakannya. Rakyat diuji kedewasaannya. Aparat diuji netralitasnya. Media diuji integritasnya.

Republik ini pernah lebih gaduh. Pernah lebih gelap. Tapi ia tetap berdiri, karena para pendahulu tahu satu hal: bahwa Indonesia bukan milik satu warna, satu suara, satu golongan. Ia lahir dari perbedaan yang dirangkul, bukan ditolak.

Maka di tengah riuh aksi dan aksi tandingan, ada baiknya kita mundur sejenak. Bertanya dalam diam: masihkah kita percaya pada Indonesia yang satu? Kalau iya, maka sudah saatnya suara keras itu diarahkan untuk merawat—bukan merobek. Karena yang gelap bukan selalu harus dibakar. Kadang cukup disinari.