Dukungan Muhammadiyah dan PBNU Terhadap Pemberian Gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto


  • 143 
  • Sunday, 09 November 2025 
  • Karina

Dukungan Muhammadiyah dan PBNU Terhadap Pemberian Gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto

line-height:150%">Jakarta — Petinggi
Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)
menyatakan dukungan terhadap usulan pemberian gelar Pahlawan Nasional
kepada Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto. Dukungan tersebut
disampaikan masing-masing oleh Ketua PP Muhammadiyah Dadang Kahmad, serta Ketua
PBNU, Ahmad Fahrur Rozi atau Gus Fahrur.

Ketua PP Muhammadiyah Dadang Kahmad menilai
Soeharto merupakan salah satu tokoh yang memiliki kontribusi besar bagi
perjalanan sejarah bangsa, baik pada masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan
hingga periode pembangunan nasional ketika memimpin Indonesia.

“Kami mendukung Bapak Soeharto sebagai Pahlawan
Nasional karena beliau sangat berjasa kepada Republik Indonesia, sejak masa
revolusi kemerdekaan hingga masa pembangunan,” ujar Dadang.

Pada masa awal kemerdekaan, Soeharto dinilai
terlibat dalam perang gerilya serta memainkan peran dalam Serangan Umum 1 Maret
1949, sebuah peristiwa yang turut memperkuat eksistensi Indonesia di mata
internasional. Selain itu, selama menjabat sebagai presiden, Soeharto memimpin
agenda pembangunan terencana melalui Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita),
yang mendorong perkembangan sektor pertanian, industrialisasi, serta
pembangunan infrastruktur di berbagai wilayah.

Dadang juga menyebut swasembada beras pada
1980-an, keberhasilan program Keluarga Berencana (KB), serta stabilitas
ekonomi, politik, dan keamanan nasional sebagai bagian dari capaian penting
yang diingat dari era kepemimpinannya.

Sejalan dengan itu, Ketua PBNU Ahmad Fahrur
Rozi (Gus Fahrur) turut menyampaikan dukungan terhadap usulan Kementerian
Sosial kepada Dewan Gelar untuk menetapkan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional.
Menurutnya, bangsa perlu mempelajari seluruh aspek sejarah, baik pencapaian
maupun kekurangan sebagai pijakan dalam membangun masa depan.

“Dalam tradisi keilmuan Islam, ada kaidah
penting: al-muhafazhah ‘ala al-qadim ash-shalih wal akhdzu bil jadid al-ashlah,
menjaga yang lama yang baik, dan mengambil yang baru yang lebih baik,” ujar Gus
Fahrur

Ia menilai Soeharto memiliki kontribusi besar
dalam dua fase sejarah yang berbeda. “Pak Harto berjasa besar dalam stabilisasi
nasional dan pembangunan ekonomi. Di masa beliau, Indonesia dikenal dunia
sebagai salah satu macan ekonomi baru Asia, dengan program pembangunan yang
terencana dan stabilitas ekonomi serta keamanan yang tinggi,” ungkapnya.

Gus Fahrur menambahkan, penetapan gelar
Pahlawan Nasional tidak dimaksudkan untuk meniadakan kritik atas kekurangan
yang pernah ada, melainkan sebagai bentuk penghargaan atas jasa besar yang
telah diberikan kepada bangsa.

Sementara itu, Menteri Sosial Saifullah Yusuf
menyampaikan bahwa nama Soeharto telah masuk dalam pembahasan sejak beberapa
tahun terakhir. Proses penetapan gelar dilakukan melalui seleksi bertahap,
melibatkan tokoh masyarakat, akademisi, serta tim kajian tingkat nasional.





















Selain Soeharto, sejumlah tokoh lain yang juga
diusulkan antara lain Presiden ke-4 KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), aktivis
buruh Marsinah, Jenderal (Purn) M. Jusuf, mantan Gubernur DKI Jakarta Ali
Sadikin, KH. Bisri Syansuri, Syaikhona Kholil dari Bangkalan, serta mantan
Menteri Luar Negeri Prof. Mochtar Kusumaatmadja.