Lebih Murah Latih Direksi di Swiss daripada Bayar Mahal Kesalahan Mereka



Lebih Murah Latih Direksi di Swiss daripada Bayar Mahal Kesalahan Mereka

Jakarta - Mari kita jujur. Banyak orang ribut soal 36 direksi BUMN yang dikirim belajar kepemimpinan ke Swiss. Katanya buang-buang duit, katanya kalau sudah direksi harusnya sudah pintar, katanya lebih baik panggil konsultan ke Indonesia. Kedengarannya masuk akal, sampai kita sadar siapa yang kita bicarakan: orang-orang yang memimpin perusahaan dengan aset ratusan triliun rupiah.

Sekarang bayangkan: kalau salah ambil keputusan satu persen saja, dampaknya bisa rugi miliaran—uang rakyat juga yang terbakar. Jadi, lebih murah mana? Investasi beberapa ratus juta untuk memperkuat kapasitas mereka, atau bayar kesalahan kebijakan yang nilainya bisa setara APBD satu provinsi?

Lalu soal “kenapa harus ke Swiss?”. Jawabannya sederhana: karena kelas dunia tidak datang ke ruang rapat Jakarta dengan harga murah. IMD Business School di Swiss bukan kursus kepemimpinan biasa. Itu tempat lahirnya pemimpin global, CEO perusahaan multinasional yang bersaing di panggung dunia. Kalau kita ingin BUMN Indonesia naik kelas, ya direksinya harus ditempa di ring yang sama, bukan hanya seminar hotel dalam negeri.

Apakah ini berarti direksi kita tidak kompeten? Justru sebaliknya. Mereka sudah kompeten, tapi dunia bisnis berubah cepat. Pemimpin yang berhenti belajar besoknya sudah ketinggalan. Jadi kalau ada yang bilang “kalau perlu belajar kenapa diangkat?”, jawabannya: karena direksi yang tidak mau belajar justru yang bahaya.

Memang benar, ini bukan program murah. Tapi mari realistis: Indonesia ingin BUMN jadi pemain regional bahkan global. Tidak ada satupun perusahaan besar dunia yang membangun pemimpin tanpa investasi besar di pengembangan SDM. Kalau kita pelit investasi di otak direksi kita, jangan kaget kalau hasil BUMN kita juga kelas ecek-ecek.

Jadi ya, mari jujur saja: biaya ini bukan pemborosan, tapi asuransi. Asuransi agar keputusan-keputusan triliunan rupiah tidak dipegang orang yang puas dengan kemampuan seadanya.







Karena pada akhirnya, lebih baik kita keluar uang untuk bikin direksi semakin pintar, daripada keluar uang berkali-kali lipat untuk menambal kesalahan mereka.