PMKRI Aimas Gelar Ruang Dialektika Pemuda, Bahas Keberlanjutan Generasi Muda Papua


  • 14 
  • Monday, 26 October 2026 
  • Bara

PMKRI Aimas Gelar Ruang Dialektika Pemuda, Bahas Keberlanjutan Generasi Muda Papua

PMKRI Aimas Gelar Ruang Dialektika Pemuda, Bahas Keberlanjutan Generasi Muda Papua


SORONG – Masa depan pemuda Papua menuju Indonesia Emas 2045 menjadi sorotan dalam kegiatan Ruang Dialektika Pemuda yang diselenggarakan PMKRI Cabang Aimas Sta. Monika, Minggu (25/10/2026).


Diskusi menjelang peringatan Hari Sumpah Pemuda tersebut membahas berbagai tantangan yang dihadapi generasi muda, mulai dari persoalan keamanan dan sosial, kualitas pendidikan, hingga pentingnya keterlibatan pemuda dalam pembangunan daerah.


Kegiatan bertema “Nasib Pemuda Papua Menuju Indonesia Emas 2045” itu menghadirkan sejumlah narasumber dari unsur pemerintah, penyelenggara pemilu, akademisi, dan organisasi kepemudaan. Diskusi diarahkan untuk mendorong pemuda Papua agar tidak hanya menjadi penonton, tetapi mengambil peran aktif dalam menentukan masa depan daerahnya.


Akademisi muda Papua, Gerad Kosamah, S.I.Kom., M.I.Kom., menyoroti pentingnya menjadikan momentum Sumpah Pemuda sebagai ruang refleksi atas persoalan nyata yang terjadi di Papua. Menurutnya, gangguan keamanan dan berbagai persoalan sosial dapat menjadi hambatan bagi pemuda untuk mengembangkan kapasitas serta mempersiapkan diri menghadapi tantangan menuju 2045.


Gerad menekankan bahwa pemuda perlu bergerak dari sekadar menyampaikan keluhan menuju keterlibatan yang lebih konkret melalui gagasan, kritik konstruktif, dan kolaborasi dengan pemerintah. Masukan tersebut diharapkan dapat mendorong lahirnya kebijakan yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat, khususnya generasi muda Papua.


Salah satu pertanyaan reflektif yang mengemuka ialah apakah pada 2045 orang Papua masih memegang peran penting di tanahnya sendiri. Pertanyaan tersebut menjadi pengingat bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia, akses pendidikan, pengembangan keterampilan, dan ruang partisipasi pemuda perlu dipersiapkan sejak sekarang.


Gerad juga menekankan pentingnya dukungan pemerintah daerah dalam mendorong pendidikan dan peningkatan kapasitas pemuda. Selain itu, konsolidasi mahasiswa, organisasi kepemudaan, kampus, dan komunitas dinilai penting untuk memperkuat gerakan bersama serta memperluas kontribusi pemuda dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.


Pemuda Diminta Adaptif dan Berkontribusi


Kepala Dinas Sosial Kabupaten Sorong, Dr. Amatus Turot, S.Sos., M.Si., menyoroti perlunya pemuda memanfaatkan perkembangan teknologi secara produktif. Pemuda perlu menggunakan media sosial secara kritis dan bertanggung jawab serta menyalurkan ekspresi melalui kegiatan positif dengan tetap memperhatikan aturan yang berlaku.


Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antarpemangku kepentingan untuk menjawab persoalan generasi muda. Dukungan pendidikan, pembinaan, dan pemahaman mengenai kehidupan bermasyarakat serta bernegara diperlukan agar pemuda dapat berpartisipasi secara lebih konstruktif.


Sementara itu, Faril Sampetoding Rego, S.Pi., Ketua Badan Pengawas Pemilihan Umum Provinsi Papua Barat Daya, mendorong pemuda Papua melakukan refleksi serius terhadap berbagai hambatan yang memengaruhi perkembangan generasi muda, termasuk persoalan keamanan dan sosial.


Menurut pandangannya, pemuda perlu memperoleh ruang yang memadai untuk berkembang dan menyampaikan gagasan. Pemuda juga diharapkan mampu memberikan masukan yang solutif kepada pemerintah, ikut mengawal kebijakan yang berpihak kepada masyarakat, serta memperkuat pendidikan dan kolaborasi sebagai bagian dari persiapan menuju Indonesia Emas 2045.


Perubahan Diri dan Persoalan Sosial


Ketua KNPI Kota Sorong periode 2025–2028, John H. Manibela, menempatkan Hari Sumpah Pemuda sebagai momentum kebangkitan dan penguatan peran generasi muda. Ia menekankan bahwa perubahan perlu dimulai dari diri sendiri, antara lain melalui pembentukan pola pikir, peningkatan keterampilan, kemauan belajar, dan perluasan jaringan dengan berbagai kalangan.


Menurutnya, pemuda tidak cukup hanya mengandalkan identitas, tetapi harus membangun kemampuan agar mampu bersaing dan berkontribusi. Persatuan, semangat kebangsaan, dan komitmen menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia juga dinilai penting agar pemuda dapat mengambil bagian dalam pembangunan Tanah Papua.


Ketua Presidium PMKRI Cabang Aimas Sta. Monika periode 2025–2027, Silvester Mate, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut berangkat dari kepedulian terhadap berbagai persoalan yang dihadapi pemuda. Ia menyoroti perlunya dukungan pendidikan, peningkatan keterampilan, serta keterlibatan pemerintah dalam membuka kesempatan bagi generasi muda.


Silvester juga mengangkat konsumsi minuman keras di kalangan pemuda sebagai salah satu persoalan sosial yang perlu mendapat perhatian. Upaya pencegahan, menurut gagasannya, perlu melibatkan pemerintah dan aparat kepolisian. Ia turut mendorong pembahasan langkah regulatif di tingkat daerah sebagai salah satu upaya menangani persoalan tersebut.


Menyiapkan Pemuda Papua Menuju 2045


Berbagai pandangan yang disampaikan dalam Ruang Dialektika Pemuda memperlihatkan bahwa persiapan menuju Indonesia Emas 2045 tidak cukup hanya mengandalkan semangat generasi muda. Diperlukan peningkatan kualitas pendidikan dan keterampilan, ruang partisipasi yang memadai, pembinaan sosial, serta kolaborasi berkelanjutan antara pemuda, organisasi, lembaga pendidikan, pemerintah, dan masyarakat.


Momentum Hari Sumpah Pemuda menjadi pengingat bahwa generasi muda Papua perlu dipersiapkan agar mampu menghadapi perubahan sekaligus berperan aktif dalam pembangunan daerahnya sendiri.


Pertanyaan mengenai posisi orang Papua pada 2045 pun menjadi tantangan bersama, memastikan generasi muda memiliki kapasitas, kesempatan, dan ruang untuk menentukan masa depan Tanah Papua, bukan sekadar menjadi penonton dalam proses pembangunan.