Polemik Holyland Karangturi : Kedepankan Dialog Kepala Dingin Serta Hati Sejuk


  • 179 
  • Tuesday, 23 September 2025 
  • Yuna

Polemik Holyland Karangturi : Kedepankan Dialog Kepala Dingin Serta Hati Sejuk


Polemik pembangunan wisata rohani Holyland di wilayah Desa Karangturi, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah yang diinisiasi oleh Yayasan Keluarga Anugerah Surakarta terus membesar. Terkait dengan hal tersebut, Muhammad Fakhrial Aulia, M. Pd. (Wakil Ketua Forum Keluarga Alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah atau Fokal IMM Kabupaten Karanganyar) menyatakan sebagai berikut:

1.    
Penghentian sementara pembangunan wisata rohani Holyland oleh Bapak H. Rober Christanto, S.E., M.M. (Bupati Karanganyar) melalui SK Bupati Karanganyar Nomor 500.16.7/505/2025 tertanggal 2 September 2025 sudah tepat sebagai upaya untuk meredam gesekan yang bisa saja terjadi akibat polarisasi sikap terkait pembangunan proyek tersebut.

2.    
Pernyataan Permadi Arya atau Abu Janda (Pegiat Media Sosial) di akun Instagram miliknya @permadiaktivis2 yang mengatakan bahwa Bapak Bupati Karanganyar mengalah kepada warga intoleran merupakan kesimpulan yang sangat prematur. Yang terjadi adalah pengkajian agar seluruh umat beragama dapat beribadah dengan tenang yang harapannya juga dapat meningkatkan perekonomian Masyarakat sekitar melalui UMKM.

3.    
Pemerintah Kabupaten Karanganyar sebaiknya menjembatani dialog menggunakan kepala dingin dan hati sejuk tanpa adanya intervensi dari pihak manapun antara warga lokal dengan pihak Yayasan Keluarga Anugerah Surakarta. Dialog juga diharapkan dapat mengeksplorasi potensi peningkatan ekonomi warga lokal melalui UMKM yang nantinya dapat diteruskan kepada Dinas Pariwisata, dan Dinas Koperasi Usaha Kecil, serta Bagian Perekonomian dan SDA Setda Kabupaten Karanganyar.

4.    
Pemerintah Kabupaten Karanganyar juga sebaiknya meminta pandangan dan pertimbangan terkait proyek Holyland kepada Muhammadiyah dan NU. Diketahui bahwa Muhammadiyah dan NU telah terbukti melakukan aksi nyata melestarikan Bhineka Tunggal Ika dan keutuhan NKRI bahkan sebelum Negara Indonesia lahir.

5.    
Menarik untuk mengkaji fenomena yang terjadi di Universitas Muhammadiyah Papua di Jayapura yang memiliki sebanyak 90% mahasiswanya beragama Kristen. Mahasiswa-mahasiswa tersebut juga belajar tentang Al Islam dan Kemuhammadiyahan sebagai mata kuliah wajib. Ajaibnya, warga setempat tidak memandang hal tersebut sebagai sebuah (ancaman) Islamisasi.