Nuanu Hadirkan Sutala, Dorong Pariwisata Berkualitas di Bali


  • 62 
  • Wednesday, 04 March 2026 
  • Madha

Nuanu Hadirkan Sutala, Dorong Pariwisata Berkualitas di Bali

Upaya memajukan pariwisata Bali tidak hanya dilakukan melalui promosi destinasi, tetapi juga lewat penguatan sektor pendukung seperti industri kuliner. Seiring meningkatnya pengakuan internasional—termasuk penobatan Bali sebagai destinasi terbaik dunia versi Tripadvisor—transformasi gastronomi dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga daya saing Pulau Dewata.

Dalam konteks tersebut, Nuanu Creative City menggelar forum Nuanu Future Talks: Gastronomy Leaders, yang mempertemukan chef, pemilik restoran, operator hospitality, investor, dan pemangku kepentingan industri.

Forum ini membahas arah pertumbuhan industri kuliner Bali agar lebih terstruktur, berkelanjutan, dan selaras dengan kebutuhan pariwisata berkualitas. Sejumlah isu yang dibicarakan meliputi kepastian regulasi, model investasi jangka panjang, ketahanan operasional, serta peningkatan standar profesional.

Kuliner sebagai Pilar Pariwisata

Sektor kuliner dinilai memiliki kontribusi besar dalam membentuk pengalaman wisatawan. Dalam beberapa tahun terakhir, Bali tidak hanya dikenal karena alam dan budayanya, tetapi juga karena kehadiran restoran berkonsep chef-driven, jaringan hospitality internasional, serta pelaku usaha lokal yang berkembang pesat.

CEO Nuanu Creative City, Lev Kroll, menyatakan bahwa penguatan ekosistem kuliner perlu diawali dengan dialog terbuka antar pelaku industri.

“Jika ingin membangun destinasi kuliner yang kuat, penting untuk memahami kondisi di lapangan, termasuk tantangan regulasi dan operasional yang dihadapi pelaku usaha,” ujarnya.

Menurutnya, peningkatan kualitas industri kuliner akan berdampak langsung pada citra dan daya tarik pariwisata Bali secara keseluruhan.

Perkenalkan Sutala Culinary District

Dalam forum tersebut, Nuanu Creative City juga memperkenalkan rencana pengembangan distrik kuliner bernama Sutala yang akan dibangun di dalam kawasan seluas 44 hektare. Distrik ini dirancang sebagai ruang yang mengintegrasikan aktivitas usaha kuliner dengan kolaborasi dan pengembangan industri.

Pengembangan kawasan tematik seperti ini dinilai sejalan dengan tren pariwisata berbasis pengalaman (experience-based tourism), di mana wisatawan mencari interaksi yang lebih mendalam dengan budaya lokal, termasuk melalui makanan.

Jaga Identitas Lokal di Tengah Arus Global

Diskusi forum turut menyoroti pentingnya menjaga identitas kuliner Bali di tengah meningkatnya investasi dan masuknya konsep internasional. Para pembicara menekankan bahwa bahan baku lokal, teknik tradisional, dan nilai budaya setempat merupakan elemen yang membedakan Bali dari destinasi lain.

Chef Wayan Kresna Yasa, pemilik HOME by Chef Wayan dan Chef Patron KAUM, menilai inovasi tetap perlu berpijak pada akar budaya.

“Kita perlu mengembangkan industri tanpa menghilangkan pengetahuan dan tradisi yang menjadi dasar kuliner Bali,” katanya.

Forum ini mendapat dukungan dari Bali Tourism & Investment Chamber (BTIC), Bali Restaurant & Cafe Association (BRCA), dan Bali HoreCa Club (BHC), yang selama ini terlibat dalam penguatan ekosistem pariwisata dan hospitality di Bali.

Selain itu, sejumlah perusahaan turut mendukung kegiatan ini, antara lain PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, PT Hatten Bali Tbk, dan RIEDEL The Wine Glass Company.

Perkuat Fondasi Pariwisata Jangka Panjang

Di tengah persaingan destinasi global, penguatan sektor kuliner dipandang sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas dan nilai tambah pariwisata Bali. Melalui forum ini, pelaku industri mendorong adanya tata kelola yang lebih jelas, kolaborasi lintas sektor, serta keberlanjutan usaha yang tetap berakar pada budaya lokal.

Langkah tersebut dinilai penting agar Bali tidak hanya mempertahankan posisinya sebagai destinasi favorit wisatawan, tetapi juga berkembang sebagai pusat gastronomi yang mendukung pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan.