Perjalanan Hidup Basuki: Berdagang Cilok, Prinsip Kemandirian, dan Kritik Sistem


  • 80 
  • Monday, 01 December 2025 
  • Hadi

Perjalanan Hidup Basuki: Berdagang Cilok, Prinsip Kemandirian, dan Kritik Sistem

Surakarta, Suara Indonesia Merdeka – Bapak Basuki Rahmat (43), pria kelahiran Lampung yang kini merintis usaha dagang cilok di Jawa Tengah, membagikan kisah hidupnya yang penuh liku. Dalam wawancara eksklusif, Pak Basuki menguraikan perjalanannya, mulai dari masa muda, pengalaman pahit pada tahun 2018 (terlibat kasus terorisme), hingga prinsip hidupnya yang teguh memegang teguh kemandirian dan ajaran agama.

Masa Muda, Migrasi dan Merantau di Jawa

Pak Basuki mengawali kisahnya dengan menceritakan masa mudanya di Lampung. Meskipun lahir di Sumatera, ia berasal dari orang tua asli Jawa (Sleman Utara dan Selatan). Kepindahannya ke Jawa (Jogja) berawal dari urusan tanah warisan kakeknya yang harus diurus.

"Dulu kan Bapak itu kan tinggalan dari Mbah itu kan nggak diurus. Terus kan disuruh dari Lampung pulang ke Jawa," kenangnya.

Namun, tinggal di Jogja tidak berlangsung lama. Karena kesulitan finansial sebagai pendatang, orang tuanya memutuskan kembali ke Lampung. Sejak saat itulah Pak Basuki memilih merantau dan berkarya sendiri di Jawa, khususnya di Jogja.

"Setelah saya mengantar (mereka) pulang, Bapak-Ibu saya merangkul sendiri. Jadi saya bahasanya berkarya sendiri di Jawa Tengah ini. Daerah awalnya kan Jogja," ujarnya. Sebelum berjualan cilok, Pak Basuki sempat bekerja serabutan dan berdagang di kawasan wisata, seperti Candi Prambanan, tempat ia bertemu dengan istrinya.

Musibah 2018: Ujian, Hikmah dan Sikap Tegas

Musibah yang dialami Pak Basuki pada tahun 2018 diakuinya sempat menimbulkan rasa kaget, sedih, dan refleksi mendalam. Namun, ia menemukan sisi ironis dan "kesenangan" di balik situasi tersebut, seperti saat ia mendapat pengawalan layaknya pejabat dari tempat persembunyiannya menuju Mako Brimob.

"Senangnya itu apa? Dikawal, kayak pejabat. Itu aja. Dari tempat gunung ke arah ini. Dikawal lah itu," ceritanya.

Meskipun mendapat tekanan fisik, ia menanggapi tindakan represif aparat sebagai "latihan fisik" dan tidak sampai menimbulkan trauma berkepanjangan.

Prinsip Bertahan: Tawakal dan Ilmu Agama

Dalam menghadapi cobaan, Pak Basuki berpegang teguh pada prinsip tawakal dan penguatan ilmu agama sebagai kunci utama.

"Untuk mencari kebenaran, bukan pemenuhan. Saya tawakal sama Allah dengan berzikir, minta di situ. Berarti lebih menguatkan keimanan, ketakwaan," jelasnya.

Secara finansial, ia bersyukur masih memiliki tabungan saat itu. Yang paling ditekankan, Pak Basuki secara tegas menolak segala bentuk bantuan dari pemerintah setelah kejadian tersebut.

"Saya tuh orang yang punya jiwa kemandirian. Tidak mengharapkan (bantuan)," tegasnya, meski ia tahu ada tawaran bantuan yang disertai syarat tertentu.

Kembali Mandiri: Kisah di Balik Gerobak Cilok

Memulai babak baru, Pak Basuki memilih berdagang cilok. Keputusan ini didasarkan pada insting dagang yang dimilikinya sejak kecil dan survei pasar yang menunjukkan bahwa cilok atau pentol adalah usaha kuliner yang "tidak mandang cuaca" dan banyak diminati.

Rutinitas Harian yang fleksibel

Kegiatan berdagangnya sangat fleksibel karena ia adalah bos bagi dirinya sendiri; setiap pagi setelah Salat Subuh ia mengambil stok cilok dari pabrik di Ampel melalui sistem COD di Mojosongo Tol untuk efisiensi waktu, kemudian siang hari ia merebus dan memanaskan cilok untuk menjaga kualitas sebelum beristirahat, sementara pada sore hingga malam hari biasanya berangkat sekitar pukul empat seperempat dan pulang sekitar pukul sebelas malam ia berjualan di satu titik seperti area SPBU Bolen, dan bersyukur usahanya yang telah berjalan hampir dua tahun dapat bertahan berkat kesabaran dan ketelitian dalam mengelolanya.

Adaptasi dan Penolakan Bantuan Pemerintah

Pak Basuki mengaku cepat beradaptasi pasca-musibah karena terbiasa dengan pekerjaan yang "serba kasar, serba keras." Ia tidak menghabiskan waktu untuk merenung dan langsung mencari peluang.

Ia menegaskan kembali bahwa meskipun pejabat seperti camat dan lurah sempat mengunjunginya pasca-bebas, ia menolak segala bentuk tawaran bantuan atau campur tangan, karena ia tidak tertarik dengan sistem yang ia yakini dapat menimbulkan ketakutan di kemudian hari.

Pandangan Kritis: Investasi Asing dan Solusi Agama

Pak Basuki menyampaikan pandangan kritisnya terhadap sistem yang berlaku, terutama terkait isu Tenaga Kerja Asing (TKA) dan investasi, dengan mencontohkan proyek besar seperti kereta cepat Whoosh dan pabrik nikel yang melibatkan Tiongkok.

Ia mencurigai investasi dan TKA secara masif sebagai upaya menguasai Indonesia, serta menyoroti latar belakang ideologi asing yang ia nilai berbahaya.

"Mereka memang intinya untuk menguasai Mas. Menguasai Indonesia ini, apalagi mereka kan orang-orang banyakan kan orang Palu Arit toh. Komunis toh, orang-orang kayak gitu," ujarnya lugas.

Menurutnya, akar masalah bangsa ini mulai dari hutang menumpuk hingga pengangguran adalah dampak dari kezaliman sistem undang-undang manusia yang berlaku.

"Solusinya ganti sistem, kerja sistem, enggak ada lain. Kalau kita masih mengacu dalam undang-undang manusia ya seperti ini, sampai, ya sampai hancur itu pasti. Tapi kalau kita kembali lagi kepada Al-Qur'an Sunnah, itu alah Mas, masya Allah itu," tegasnya.

Pesan untuk Bangsa dan Prinsip Mandiri

Sebagai solusi, Pak Basuki menekankan bahwa persatuan umat dan kesejahteraan bangsa hanya dapat dicapai dengan kembali kepada akidah, Al-Quran, dan Sunnah.

Ia menyarankan agar Indonesia memilih sikap mandiri dalam segala hal, daripada bergantung pada negara asing yang ia sebut sebagai "bumerang".

"Kalau saya milih mending mandiri, semampu kita ya toh, sekuat kita saja... tanpa bantuan asing karena dunia adalah sarana bukan tujuan, jangan kebalik itu."

Kepada mereka yang menghadapi musibah serupa (mantan narapidana terorisme), Pak Basuki menitipkan pesan spiritual yang mendalam:

"Tetaplah istiqomah di jalan tauhid. Tetap tawakal, jaga keimanan, jaga kesehatan. Tetaplah di jalan Al-Quran dan Sunnah yang dicontohkan Rasulullah."

(Mhmud/Hdi)