Loading
AIMAS – Perkembangan ekonomi Papua Barat Daya sepanjang 2026 menunjukkan sejumlah dinamika. Inflasi masih terjadi, nilai tukar petani mengalami peningkatan, ekspor mencatat pertumbuhan, sementara aktivitas transportasi udara justru mengalami penurunan.
Gambaran tersebut terungkap dalam kegiatan Press Release Indikator Penting Papua Barat dan Papua Barat Daya yang berlangsung di Kantor BPS Kabupaten Sorong, Senin (2/11/2026).
Kegiatan dipimpin langsung oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua Barat, Ir. Merry, M.P., didampingi Kepala BPS Kabupaten Sorong, Masadi Yanry Koupun, serta dihadiri sejumlah tamu undangan.
Dalam kegiatan tersebut, Merry memaparkan sejumlah indikator penting yang mencakup perkembangan ekonomi Oktober 2026, perdagangan luar negeri, pariwisata dan transportasi udara September 2026, hingga angka sementara luas panen dan produksi padi serta jagung tahun 2026.
Salah satu indikator yang menjadi perhatian adalah inflasi. Berdasarkan data BPS, Papua Barat Daya mencatat inflasi bulanan sebesar 0,46 persen pada Oktober 2026 dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 112,49. Sementara inflasi tahunan mencapai 5,18 persen dan inflasi tahun kalender sebesar 4,53 persen.
Merry menjelaskan bahwa seluruh tiga kota yang menjadi cakupan penghitungan IHK di Papua Barat Daya mengalami inflasi, baik secara bulanan maupun tahunan.
Sementara itu, Papua Barat mencatat inflasi bulanan sebesar 0,93 persen dengan IHK 115,21. Inflasi tahunan mencapai 6,38 persen dan inflasi tahun kalender sebesar 4,04 persen.
Pada sektor pertanian, perkembangan positif terlihat dari kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP). Papua Barat Daya mencatat NTP sebesar 109,45 pada Oktober 2026 atau meningkat 3,38 persen dibandingkan September 2026. Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) juga meningkat 3,27 persen menjadi 115,62.
Dengan capaian tersebut, Papua Barat Daya menempati peringkat keenam dari 14 provinsi di wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua).
Adapun Papua Barat mencatat NTP sebesar 105,75 atau meningkat 3,01 persen, dengan NTUP sebesar 111,53. Provinsi tersebut berada di peringkat kesembilan dari 14 provinsi di wilayah Sulampua.
Beralih ke sektor perdagangan luar negeri, ekspor Papua Barat Daya menunjukkan peningkatan cukup signifikan. Pada September 2026, nilai ekspor mencapai US$1,46 juta atau naik 88,75 persen dibandingkan Agustus 2026.
Komoditas ikan dan udang menjadi penyumbang utama ekspor. Jepang tercatat sebagai negara tujuan terbesar dengan nilai US$0,43 juta atau memberikan kontribusi 29,52 persen terhadap total ekspor Papua Barat Daya.
Berbeda dengan Papua Barat Daya, nilai ekspor Papua Barat mencapai US$251,92 juta, tetapi mengalami penurunan 15,32 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Ekspor provinsi tersebut didominasi bahan bakar mineral senilai US$249,03 juta, dengan Tiongkok sebagai negara tujuan terbesar senilai US$141,81 juta.
Untuk aktivitas impor, BPS mencatat tidak terdapat Nota Pemberitahuan Impor Barang (PIB) yang masuk di kedua provinsi selama September 2026.
Pada sektor pariwisata, perjalanan wisatawan nusantara asal Papua Barat Daya selama September 2026 tercatat sebanyak 141.742 perjalanan. Sementara perjalanan wisatawan nusantara dengan tujuan Papua Barat Daya mencapai 142.768 perjalanan.
Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang di Papua Barat Daya mencapai 48,08 persen, meningkat 5,87 poin dibandingkan Agustus 2026 yang tercatat 42,21 persen. Adapun rata-rata lama menginap wisatawan mencapai 2,19 malam.
Kondisi berbeda terjadi di Papua Barat. Perjalanan wisatawan nusantara asal daerah tersebut tercatat 84.256 perjalanan, sedangkan perjalanan wisatawan dengan tujuan Papua Barat mencapai 77.795 perjalanan. TPK hotel bintang berada pada angka 39,96 persen atau turun 3,58 poin dibandingkan bulan sebelumnya. Rata-rata lama menginap tercatat 1,79 malam.
Sementara itu, aktivitas transportasi udara di kedua provinsi mengalami penurunan selama September 2026.
Di Papua Barat Daya, jumlah penerbangan tercatat sebanyak 1.390 penerbangan atau turun 0,86 persen dibandingkan Agustus 2026. Jumlah penumpang mencapai 88.859 orang, turun 5,21 persen, sedangkan volume barang yang diangkut melalui udara mencapai 1.332,41 ton atau turun 6,38 persen.
Penurunan juga terjadi di Papua Barat. Jumlah penerbangan tercatat sebanyak 1.234 penerbangan atau turun 5 persen. Jumlah penumpang mencapai 41.219 orang atau turun 10,20 persen, sementara volume barang yang diangkut sebanyak 656,43 ton atau turun 7,66 persen.
Dalam pemaparan berikutnya, Merry turut menyampaikan perkembangan produksi tanaman pangan berdasarkan hasil Kerangka Sampel Area (KSA) dengan pengamatan September 2026.
Untuk komoditas padi, luas panen di Papua Barat pada 2026 diperkirakan mencapai 2,75 ribu hektare dengan produksi sebesar 12,71 ribu ton Gabah Kering Giling (GKG). Setelah dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi pangan penduduk, produksinya diperkirakan mencapai 7,64 ribu ton.
Sementara Papua Barat Daya diperkirakan memiliki luas panen padi sebesar 0,27 ribu hektare dengan produksi 0,72 ribu ton GKG atau setara 0,43 ribu ton beras.
Untuk komoditas jagung, Papua Barat Daya justru mencatat estimasi luas panen lebih besar, yakni 0,20 ribu hektare dengan produksi jagung pipilan kering berkadar air 14 persen mencapai 1.000 ton.
Sedangkan Papua Barat diperkirakan memiliki luas panen jagung pipilan sebesar 0,11 ribu hektare dengan produksi 440 ton pada kadar air yang sama.
Merry menegaskan bahwa angka luas panen dan produksi padi serta jagung tahun 2026 tersebut masih bersifat sementara berdasarkan hasil KSA dengan pengamatan September 2026.
Rangkaian indikator yang dipaparkan BPS tersebut memberikan gambaran perkembangan ekonomi Papua Barat Daya dan Papua Barat dari berbagai sektor. Kenaikan ekspor dan nilai tukar petani menjadi perkembangan positif, sementara inflasi serta penurunan aktivitas transportasi udara tetap menjadi indikator yang perlu dicermati.