Mencetak Generasi Unggul Lewat Sekolah Rakyat : Mampukan Menjawab Tantangan Zaman



Mencetak Generasi Unggul Lewat Sekolah Rakyat : Mampukan Menjawab Tantangan Zaman

YOGYAKARTA — SocioEcho menyelenggarakan seminar publik bertajuk “Mencetak Generasi Unggul Lewat Sekolah Rakyat: Mampukah Menjawab Tantangan Zaman?” di Smedi Co-Living and Coffee, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan ini menghadirkan aktivis dan penulis Kalis Mardiasih serta psikolog Nurul Khasana untuk membahas peluang dan tantangan Program Sekolah Rakyat dalam memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.

Diskusi menyoroti bahwa pemerataan akses pendidikan perlu diikuti dengan peningkatan kualitas pembelajaran, penguatan pengasuhan, pemenuhan kebutuhan psikologis peserta didik, serta penciptaan lingkungan pendidikan yang aman dan inklusif. Aspek-aspek tersebut menjadi perhatian penting dalam memastikan anak-anak memperoleh kesempatan berkembang sesuai potensi mereka.

Perluasan Akses Pendidikan Perlu Diikuti Penguatan Kualitas

Nurul Khasana menjelaskan bahwa Program Sekolah Rakyat merupakan salah satu program prioritas Presiden Prabowo yang ditujukan untuk memperluas kesempatan pendidikan bagi anak-anak dari keluarga rentan.

Nurul menyebutkan angka 66.866 anak putus sekolah, dengan keterbatasan ekonomi sebagai salah satu faktor yang menyebabkan anak harus bekerja pada usia sekolah. Kondisi tersebut memperlihatkan pentingnya upaya memperluas akses pendidikan agar anak-anak dari keluarga kurang mampu tetap memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan tanpa mengabaikan kebutuhan dasar mereka.

Meski demikian, penyelenggaraan Sekolah Rakyat juga menghadapi tantangan, termasuk proses adaptasi peserta didik terhadap kehidupan asrama. Adanya peserta didik yang mengundurkan diri atau meninggalkan asrama menunjukkan perlunya pendekatan pendampingan yang mampu memahami kondisi dan kebutuhan masing-masing anak.

Menurut Nurul, pendekatan dialogis dapat membantu mengidentifikasi faktor yang memengaruhi keberlanjutan pendidikan peserta didik. Ia juga menekankan pentingnya pemenuhan kebutuhan dasar, meliputi makanan, pendidikan, dan rasa aman selama anak menjalani kehidupan di lingkungan asrama.

Selain itu, penerapan human assessment terhadap tenaga pendidik dan pengasuh perlu diperhatikan agar pola pendampingan dapat disesuaikan dengan karakteristik serta kebutuhan individual peserta didik. Pendekatan tersebut diharapkan membantu anak mengatasi kerinduan terhadap keluarga (homesick), beradaptasi dengan lingkungan baru, serta mengembangkan kemandirian dan hubungan sosial yang sehat.

Nurul turut menyoroti pentingnya mencegah perundungan (bullying) dan stigma sosial di lingkungan pendidikan. Menurutnya, keberhasilan Sekolah Rakyat juga memerlukan dukungan ekosistem masyarakat, termasuk perluasan kesempatan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, pengembangan keterampilan, dan keterlibatan berbagai pihak dalam mendukung masa depan lulusan.

Pendidikan Inklusif dan Pengasuhan Menjadi Fondasi Perkembangan Anak

Sementara itu, Kalis Mardiasih menyoroti pentingnya pendekatan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga memperhatikan kebutuhan emosional dan perkembangan sosial peserta didik.

Kalis menjelaskan bahwa pendidikan berbasis asrama bukan merupakan model baru di Indonesia. Pengalaman pesantren yang telah lama mengembangkan sistem pendidikan dan pembinaan berasrama dapat menjadi salah satu bahan pembelajaran dalam pengembangan Sekolah Rakyat.

Dalam sistem pendidikan tersebut, pengasuh memiliki peran penting untuk memberikan pendampingan, perhatian, dan dukungan emosional kepada anak yang tinggal terpisah dari orang tuanya. Kehadiran pengasuh tidak hanya berkaitan dengan pengawasan aktivitas sehari-hari, tetapi juga dengan upaya menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung perkembangan anak.

Pendekatan tersebut perlu memperhatikan prinsip tri pusat pendidikan, yakni keterlibatan keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam mendukung proses pendidikan. Sinergi ketiganya diperlukan agar kebutuhan anak tetap menjadi perhatian selama mengikuti program pendidikan berbasis asrama.

Kalis juga menekankan pentingnya mencegah stigma terhadap peserta didik yang berasal dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Latar belakang ekonomi keluarga tidak seharusnya menjadi dasar pelabelan yang dapat memengaruhi identitas maupun kepercayaan diri anak.

Oleh karena itu, Sekolah Rakyat perlu membangun lingkungan pendidikan yang inklusif dan menghargai setiap peserta didik sebagai individu yang memiliki potensi, hak, serta kesempatan untuk berkembang. Latar belakang sosial ekonomi tidak semestinya menjadi penghalang bagi anak untuk memperoleh pendidikan berkualitas dan meraih masa depan yang lebih baik.

Dalam pembentukan kedisiplinan, Kalis menilai bahwa penerapan aturan yang tegas perlu diimbangi dengan pemberian ruang bagi anak untuk menentukan pilihan, mengembangkan kemampuan bernalar, dan membangun kecerdasan emosional. Anak perlu mendapatkan kesempatan untuk memahami konsekuensi tindakannya sekaligus mengembangkan kemandirian.

Penguatan kecerdasan emosional juga penting untuk membantu peserta didik mengenali dan mengelola perasaan, membangun hubungan sosial yang sehat, serta menemukan rasa aman melalui interaksi dengan lingkungan sekitarnya.

Lebih lanjut, Kalis menekankan bahwa pengembangan Sekolah Rakyat perlu mempertimbangkan kondisi sosial, budaya, dan geografis masing-masing wilayah. Penyesuaian pendekatan pendidikan terhadap karakteristik daerah diperlukan agar layanan yang diberikan relevan dengan kebutuhan peserta didik dan masyarakat setempat.

Stigma Sosial dan Keberlanjutan Pendidikan Jadi Perhatian

Dalam sesi tanya jawab, peserta diskusi turut mengangkat persoalan stigma sosial terhadap anak-anak yang mengikuti Sekolah Rakyat karena berasal dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.

Emanuel, mahasiswa S2 Universitas Gadjah Mada, mempertanyakan upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah pelabelan sosial terhadap peserta didik berdasarkan latar belakang ekonomi keluarga.

Diskusi menyoroti bahwa stigma dapat muncul dalam berbagai lingkungan, termasuk berdasarkan asal wilayah, pekerjaan orang tua, maupun jenis institusi pendidikan. Karena itu, latar belakang ekonomi peserta didik tidak seharusnya menjadi hambatan bagi perkembangan dan masa depan mereka.

Kualitas pendidikan dan kompetensi lulusan menjadi aspek penting agar peserta didik Sekolah Rakyat memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan dan memasuki dunia kerja. Upaya mencegah stigma juga perlu disertai penciptaan lingkungan pendidikan yang menghargai keberagaman serta memberikan kesempatan berkembang secara setara.

Pertanyaan lainnya disampaikan oleh peserta dari UIN Surakarta mengenai metode konseling untuk mencegah dan menangani homesick serta perundungan di lingkungan asrama. Dalam diskusi, keterlibatan perguruan tinggi, khususnya institusi yang memiliki bidang keilmuan psikologi, dinilai berpotensi mendukung pengembangan pendampingan dan layanan konseling bagi peserta didik.

Sementara itu, Rayyan Putra menyoroti pentingnya pendekatan pendidikan yang melibatkan berbagai unsur, dengan menyeimbangkan kedisiplinan dan pemberian ruang bagi anak untuk menentukan pilihan, mengembangkan kemampuan bernalar, serta membangun kecerdasan emosional. Pendekatan tersebut dinilai relevan dalam mempersiapkan generasi yang mampu menghadapi tantangan masa depan.

Peserta lainnya, Santi Novianti, mempertanyakan sejauh mana Sekolah Rakyat dapat mengakomodasi anak-anak jalanan serta mencegah munculnya rasa malu dan stigma sosial. Diskusi menekankan pentingnya penerimaan peserta didik sesuai persyaratan program, penguatan pengetahuan dan keterampilan, serta penciptaan lingkungan pendidikan yang inklusif.

Mendorong Pendidikan yang Aman, Berkualitas, dan Berkelanjutan

Seminar publik SocioEcho ini menyoroti bahwa perluasan akses pendidikan melalui Sekolah Rakyat perlu diiringi upaya berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, memperkuat sistem pengasuhan, dan melindungi peserta didik dari perundungan maupun stigma sosial.

Perspektif psikologis yang disampaikan Nurul Khasana menekankan pentingnya pendampingan sesuai kebutuhan anak, pemenuhan kebutuhan dasar, dan penciptaan lingkungan asrama yang aman. Sementara itu, Kalis Mardiasih menyoroti pentingnya pendidikan inklusif, keseimbangan antara kedisiplinan dan kemandirian, penguatan kecerdasan emosional, serta penyesuaian model pendidikan dengan karakteristik wilayah.

Diskusi juga menegaskan pentingnya dukungan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, tenaga pendidik, pengasuh, keluarga, perguruan tinggi, hingga masyarakat. Kolaborasi tersebut dapat mendukung proses pendidikan sekaligus membuka kesempatan bagi peserta didik untuk melanjutkan pendidikan, mengembangkan keterampilan, dan mempersiapkan masa depan.

Melalui diskusi ini, pengembangan Sekolah Rakyat dapat terus dievaluasi secara konstruktif dengan memperhatikan kebutuhan peserta didik secara menyeluruh. Tujuannya bukan hanya memperluas kesempatan bersekolah, tetapi juga memastikan anak-anak memperoleh lingkungan belajar yang aman, layanan pendidikan berkualitas, dan kesempatan berkembang tanpa dibatasi latar belakang sosial ekonomi.