Loading
Sekretaris Daerah BEMNUS Sumsel (Muhammad Julian) menyampaikan sikap terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama bulan suci Ramadhan yang berlangsung di berbagai daerah di Indonesia.
Berdasarkan aspirasi dan tanggapan masyarakat, terdapat sejumlah menu MBG seperti roti, susu, telur mentah, hingga makanan ringan tertentu yang dinilai kurang kontekstual dengan kondisi siswa yang sedang menjalankan ibadah puasa. Kebijakan ini memunculkan kekhawatiran akan kurangnya sensitivitas terhadap nilai religius dan budaya masyarakat, khususnya di momentum Ramadhan.
Muhammad Julian menyampaikan "Kami menilai bahwa distribusi makanan siap konsumsi pada jam sekolah selama Ramadhan berpotensi membuka peluang bagi siswa untuk berbuka di tengah hari. Dalam praktik sosial masyarakat, banyak orang tua secara sadar membatasi bahkan meniadakan uang jajan anak selama Ramadhan sebagai bentuk pendidikan karakter dan pengawasan agar anak dapat menjalankan ibadah puasa secara penuh hingga waktu berbuka."
Apabila makanan dibagikan tanpa penyesuaian skema selama Ramadhan, maka hal ini berpotensi:
1. Melemahkan peran orang tua dalam mendidik dan membimbing anak menjalankan puasa.
2. Menimbulkan godaan sosial di lingkungan sekolah bagi siswa yang sedang berpuasa.
3. Mengurangi nilai pendidikan spiritual serta kekhusyukan bulan suci Ramadhan.
Sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim, kebijakan publik pada bulan Ramadhan semestinya mempertimbangkan aspek sosial, budaya, dan religius masyarakat. Program pemerintah tidak cukup hanya berorientasi pada pemenuhan gizi, tetapi juga harus adaptif terhadap momentum keagamaan yang memiliki nilai pendidikan moral dan spiritual.
Oleh karena itu, Sekretaris Daerah BEMNUS Sumsel mendorong agar pelaksanaan program MBG selama Ramadhan di seluruh Indonesia segera dievaluasi secara komprehensif. Kami mengusulkan agar skema distribusi dialihkan dalam bentuk sembako atau bahan kebutuhan pokok yang setara dengan alokasi anggaran per hari selama masa sekolah berlangsung.
Skema ini dinilai lebih tepat karena:
* Tetap menjaga tujuan pemenuhan gizi siswa.
* Memberikan manfaat langsung kepada keluarga.
* Menguatkan nilai kebersamaan dan keberkahan Ramadhan.
* Mengurangi potensi polemik serta menjaga harmonisasi sosial.
"Kami menegaskan bahwa sikap ini bukan bentuk penolakan terhadap program pemerintah, melainkan bentuk tanggung jawab moral dalam mengawal kebijakan agar lebih bijak, inklusif, dan selaras dengan nilai masyarakat Indonesia." Lanjutnya.
BEMNUS Sumsel siap menjadi mitra kritis dan konstruktif dalam dialog bersama pemerintah pusat maupun daerah demi memastikan program MBG tetap berjalan efektif serta membawa keberkahan di bulan suci Ramadhan.