Loading
BENGKULU — Kelapa sawit dinilai memiliki posisi strategis dalam mendukung perekonomian Bengkulu, tidak hanya dari sisi produksi dan pendapatan masyarakat, tetapi juga melalui pengembangan hilirisasi yang dapat meningkatkan nilai tambah komoditas serta membuka peluang investasi baru.
Hal tersebut disampaikan Rasidin, M.Si., Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Bengkulu, yang menilai pengembangan sektor kelapa sawit perlu diarahkan tidak hanya pada peningkatan produksi bahan baku, tetapi juga pada penguatan industri pengolahan di daerah.
“Kelapa sawit merupakan salah satu sektor strategis yang memiliki peran penting dalam menggerakkan perekonomian Bengkulu. Pengembangan hilirisasi dan peningkatan nilai tambah dapat memperluas manfaat ekonomi, baik bagi petani, masyarakat maupun dunia usaha,” ujar Rasidin.
Menurutnya, salah satu perkembangan penting terlihat dari rencana pembangunan pabrik minyak goreng di Kabupaten Bengkulu Utara dengan nilai investasi sekitar Rp345,42 miliar. Proyek tersebut tercatat sebagai salah satu peluang investasi strategis yang difasilitasi Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Bengkulu dan diproyeksikan menjadi bagian dari penguatan hilirisasi industri sawit.
Selain itu, Kanwil DJPb Bengkulu mencatat lima peluang investasi strategis dengan total sekitar Rp473,15 miliar, yang tersebar pada sektor perindustrian, pertanian dan pariwisata. Dari total tersebut, pembangunan pabrik minyak goreng di Bengkulu Utara menjadi peluang investasi dengan nilai terbesar.
“Angka tersebut menunjukkan bahwa komoditas daerah memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi dengan nilai tambah yang lebih tinggi. Karena itu, hilirisasi perlu diikuti dengan peningkatan produktivitas, kepastian usaha, penguatan kemitraan dan tata kelola yang berkelanjutan,” jelas Rasidin.
Dari sisi produksi, potensi lahan kelapa sawit Bengkulu juga menjadi modal penting dalam pengembangan sektor tersebut. Potensi tersebut perlu dioptimalkan melalui praktik perkebunan yang baik, peningkatan produktivitas serta peremajaan tanaman yang sudah tidak produktif.
Pemerintah pada 2026 juga mendorong program peremajaan sawit rakyat (PSR) dengan target 3.500 hektare di lima kabupaten, terutama di Bengkulu Utara dan Mukomuko. Program tersebut diharapkan dapat meningkatkan produktivitas kebun rakyat sekaligus menjaga keberlanjutan pasokan bahan baku bagi industri pengolahan.
Rasidin menambahkan bahwa kemitraan antara petani, perusahaan, pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya menjadi salah satu faktor penting untuk menciptakan ekosistem sawit yang sehat. Peningkatan produktivitas di tingkat petani perlu berjalan beriringan dengan penguatan industri pengolahan agar manfaat ekonomi tidak berhenti pada penjualan bahan mentah.
“Dengan peremajaan, praktik perkebunan yang baik, kemitraan dan hilirisasi, sektor kelapa sawit dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar serta membuka ruang bagi tumbuhnya investasi dan kegiatan ekonomi masyarakat,” katanya.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam menerima informasi mengenai sektor kelapa sawit dan investasi, khususnya melalui media sosial. Masyarakat diharapkan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi dan selalu mengecek kebenaran informasi melalui sumber yang kredibel.
“Informasi mengenai investasi, industri dan perkebunan perlu dilihat secara utuh dan berdasarkan data yang dapat dipertanggungjawabkan. Masyarakat juga perlu membiasakan diri memeriksa sumber informasi sebelum menyebarkannya,” ujar Rasidin.
Dengan penguatan produktivitas, peremajaan sawit rakyat, kemitraan dan hilirisasi, pengembangan kelapa sawit Bengkulu diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan nilai tambah, penciptaan lapangan kerja serta pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan.